Search

Archive for January, 2010

PostHeaderIcon Wisata ”Rafting” tetap Diminati Wisman

Selain wisata agro, spiritual dan spa yang sudah berkembang di Bali, wisata bahari yang memanfaatkan potensi pantai dan sungai juga menjadi bagian dari daya tarik wisata ke Bali.

Wisata rafting misalnya, aktivitas yang memanfaatkan derasnya air sungai ini menjadi salah satu produk wisata bahari yang tetap menyedot ribuan turis asing ke Bali.

Seorang pelaku usaha rafting di Bali mengatakan, wisata rafting banyak menarik minat para petualang air untuk menikmati alam yang asri dan alami. Terbukti, sedikitnya puluhan pengusaha bahari yang memanfaatkan Sungai Ayung sebagai produk wisata bahari. Sedikitnya ratusan para petualang yang gemar tantangan derasnya air sungai dan suasana alam ke sini.

Tiap hari paling sedikit ada sekitar 5 boat atau tiga puluh orang yang mencoba derasnya arus Sungai Ayung. Mereka kebanyakan ingin tahu suasana alam yang ada di tepi Sungai Ayung. Mereka kebanyakan berasal dari negara Prancis dan ada beberapa yang berasal dari Jepang dan Eropa,” ungkapnya, Minggu (24/1) kemarin.

Banyak pengusaha wisata bahari yang ada, dikatakannya, membawa hal yang positif karena produk wisata ini dapat menampung tenaga kerja lokal baik sebagai kameramen dan guide.

“Makin banyaknya jumlah pengusaha bahari dengan luas lahan yang tidak pernah bertambah atau berkembang, kami berharap tidak akan memicu persaingan yang merugikan para konsumen yang berakibat pada ruginya para pengusaha atau para tenaga kerja yang bekerja di tempat tersebut,” katanya.

Seorang pengusaha wisata bahari lainnya juga mengakui, minat wisatawan, baik domestik maupun mancanegara yang mengunjungi dan menikmati wisata minat khusus di Bali terus meningkat.

“Untuk wisata rafting, Bali memiliki objek yang telah dikenal di dunia internasional dan dikunjungi wisatawan mancanegara dalam jumlah besar, seperti Australia, Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara Eropa. Di samping jumlah kunjungan tinggi, uang dibelanjakan wisatawan kelompok ini juga besar,” ujarnya.

Menurutnya, jenis wisata seperti ini mesti lebih dipromosikan untuk mengantisipasi penurunan wisatawan mancanegara (wisman). “Dengan meningkatkan minat khusus kemungkinan krisis wisman dapat teratasi. Sebab wisman jenis ini mempunyai tingkat pengeluaran uang yang tinggi, bisa dua tiga kali lipat dibanding wisman pada umumnya,” katanya.

Kepala Dinas Pariwisata Daerah (Disparda) Bali, belum lama ini juga mengatakan, kegiatan wisata minat khusus seperti rafting , lomba lari, surfing dan aktivitas bahari lainnya mampu menggenjot tingkat kunjungan wisman ke Bali.

“Selain panorama alam dan tradisi di Bali, sejumlah aktivitas wisata air yang melibatkan warga asing cukup potensial menggenjot jumlah kedatangan mereka di Bali,” katanya.

PostHeaderIcon Cuaca Buruk, Pengusaha Wisata Bahari Waswas

Sejumlah pengusaha wisata bahari tampaknya mulai mengkhawatirkan hujan yang kerap turun akhir-akhir ini. Pasalnya, cuaca yang tidak mendukung akan berdampak pada pembatalan rencana wisatawan berwisata di laut.

“Akan terjadi pembatalan jika hujan turun dengan intensitas tinggi. Terlebih hujan yang disertai angin kencang, dipastikan usaha wisata bahari akan merugi. Sebab, bisnis ini tergantung pada cuaca,” ujar salah satu pengelola puluhan boat di Sanur, Jumat (8/1) kemarin.

Kendati demikian, hujan yang turun beberapa hari terakhir, diakuinya, belum mempengaruhi minat wisatawan melakukan aktivitas bahari seperti diving maupun memancing. Mereka terlihat tetap melakukan aktivitas di laut meski sebagian wisatawan ada yang merasa khawatir melakukan aktivitas wisata di laut.

“Cuaca buruk di akhir tahun hingga awal tahun memang sudah menjadi hal hiasa yang rutin terjadi. Namun, kami tetap merasa waswas. Syukurlah cuaca kali ini tidak terlalu buruk karena air laut tidak terlalu keruh dan arus tidak terlalu kencang,” ungkapnya.

Salah seorang pelaku wisata bahari lainnya di Sanur juga mengatakan, curah hujan yang turun akan berdampak pada kegiatan wisata bahari. Mereka umumnya menghentikan aktivitas di laut sampai kondisi alam berangsur membaik serta melakukan antisipasi kemungkinan terjadinya angin kencang maupun angin tornado pada kawasan aktivitas wisata bahari.

“Kerugian akibat cuaca buruk sudah menjadi hal biasa yang rutin terjadi. Sebab, jika cuaca buruk, bisnis wisata bahari juga pasti terpuruk,” katanya.

Hujan yang turun akhir-akhir ini, dikatakannya, tidak terlalu berpengaruh terhadap kegiatan wisata bahari. Ini berdasarkan pertimbangan suhu udara di darat tidak jauh berbeda dengan suhu di dalam air. Ini tentunya kegiatan diving dan snorkeling tetap dilakukan pada musim hujan.

“Kendala yang bisa mengganggu kegiatan wisata bahari terutama hujan yang disertai gelombang besar. Sementara itu, dari puluhan paket wisata yang ditawarkan, mancing jenis trolling fishing merupakan paket wisata termahal dibandingkan paket wisata bahari lainya seperti coral fishing, parasailing, jet sky dan win surfing.