Paceklik Kunjungan, Hotel Melati Garap MICE

Menghadapi musim paceklik kunjungan, sejumlah pengelola hotel melati di kawasan Denpasar mengaku mengotimalkan kegiatan MICE (meeting, incentive, conference, and exhibition ). Hal itu untuk menutupi tingkat hunian hotel yang turun hingga 30-40 persen akibat minimnya wisatawan domestik (wisdom) yang berlibur ke Bali.

Dari pengalaman sebelumnya pasca-Nataru, wisdom ke Bali pasti sedikit. Jika bisa mempertahankan tingkat hunian 50 persen saja itu sudah bagus. Karena itu, dengan menjual paket MICE, tingkat hunian yang turun bisa terdongkrak.

Selain itu, penawaran paket MICE akan menutupi pendapatan hotel yang merosot hingga menjelang musim kunjungan wisatawan domestik yakni antara bulan Juni-Juli mendatang. Indikasi yang jelas terlihat belakangan ini, tiap penyelenggaraan wisata konvensi ke daerah kita, peminatnya melimpah, sampai dua kali lipat dibandingkan di tempat lain.

Keuntungan menawarkan paket MICE cukup banyak. Selain tidak mengenal musim, peserta MICE biasanya memiliki spending money yang tinggi dibandingkan pengunjung lainnya. Selain mengotimalkan pasar MICE, juga diberikan potongan harga hingga 40 persen dari tarif normal untuk menarik pengunjung.

Sementara itu, minat perusahaan multinasional, BUMN dan ekspatriat untuk melakukan meeting dan incentive tour ke kawasan wisata di Bali sangat tinggi. Terbukti, selain tingkat hunian yang masih stabil, jadwal meeting yang dilakukan pihak instansi pemerintahan maupun swasta juga terus berjalan.

Selain itu, dari segi revenue grup MICE sangat tinggi, spending money wisatawan MICE bisa 10 kali lebih besar daripada wisatawan biasa. Pasalnya, wisatawan MICE pasti memakai kamar, menikmati F&B dan tentu saja ruang meeting. Keramah-tamahan masyarakat dan lingkungan yang aman serta nyaman, memang menjadikan Bali sebagai pilihan terbaik untuk penyelenggaraan wisata konvensi atau wisata MICE.

Dan order-order MICE sangat ditentukan oleh pendekatan personal khususnya dengan agen MICE tertentu. Tak ketinggalan melakukan salles call ke pemerintah serta fleksibilitas dalam mengakomodasi permintaan organizer.

Harus Diprioritaskan, Promosi Wisata Bahari

Indonesia memiliki wilayah perairan yang sangat luas dan bisa menjadi modal pengembangan sektor pariwisata di Indonesia. Ketua DPP HPI mengatakan, untuk tahun 2010 ini pemerintah pusat mesti memprioritaskan promosi kekayaan wisata bahari Indonesia untuk mendukung sektor pariwisata.

Perairan Indonesia cukup luas sehingga memiliki keindahan alam bawah laut yang sangat beragam. Keindahan alam bawah laut ini bisa dijadikan modal untuk pengembangkan wisata bahari seperti kegiatan diving, snorkeling termasuk water sport. Di tahun-tahun sebelumnya pemerintah pusat lebih banyak mengedepankan pariwisata budaya dan menampilkan keindahan pemandangan alam. Pada tahun 2010 ini, Indonesia bisa mengedepankan wisata bahari untuk menggerakkan sektor pariwisata.

Di Indonesia sendiri termasuk Bali memiliki kawasan wisata bahari yang sangat indah. Salah satu contoh wisatawan yang berlibur ke Bali bisa menikmati wisata bahari seperti surfing, diving, snorkeling dan wisata bahari lainnya di Bali.

Berkembangnya wisata bahari di Indonesia, juga sangat tergantung dari dukungan kegiatan promosi yang dilakukan pemerintah pusat. Selain Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, keindahan wisata bahari di Indonesia wajib dipromosikan departemen yang membawahi masalah perikanan dan kelautan Indonesia.

Bali memiliki kawasan wisata bahari seperti Nusa Penida, Pulau Menjangan, Amed, Lembongan dan kawasan wisata bahari yang lain. Walaupun kawasan wisata bahari di Bali sudah cukup dikenal, pemerintah pusat mesti tetap mempromosikan wisata bahari di Bali ke mancanegara.

Wisata bahari di Bali termasuk kawasan wisata lain di Indonesia memiliki kelebihan masing-masing. Seperti kawasan perairan di Nusa Penida dilengkapi dengan ikan khusus seperti mola-mola. Ikan mola-mola di Nusa Penida ini mesti dipromosikan kepada dunia. Para penyelam dunia tentunya akan sangat tertarik melihat secara langsung ikan yang ada di kawasan Nusa Penida tersebut. Ini termasuk keindahan terumbu karang yang ada di Nusa Penida dan kawasan wisata bahari lain di Indonesia.

Dibandingkan dengan Malaysia, masyarakat Indonesia mesti bangga memiliki wilayah perairan laut yang cukup luas. Malaysia mungkin mengedepankan wisata darat seperti perhotelan. Indonesia memiliki laut yang luas tentunya sangat tepat jika mengedepankan wisata bahari. Dari wisata bahari ini, pelaku wisata di Indonesia bisa menawarkan kegiatan snorkeling, diving, surfing dan wisata bahari yang lain.

Pemprop Bali termasuk kawasan Indonesia yang lain, memiliki data statistik kunjungan wisatawan. Pelaku pariwisata di Indonesia mesti menawarkan kegiatan wisata bahari kepada tiap wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia pada tahun 2010 ini. Ini juga merupakan bagian kegiatan memprioritaskan pengembangan wisata bahari.

Wisatawan Eropa di antaranya tidak memiliki wilayah laut. Mereka sangat tepat ditawarkan menikmati keindahan alam bawah laut di Indonesia termasuk di Bali. Ini diimbangi dengan penambahan penyediaan wisata cruise di Bali. Dengan penyediaan kapal pesiar di Bali, bisa menjaring wisatawan mancanegara untuk berlibur lebih lama di Bali.

Bangun Image Perkampungan, Andalkan View Alam Lepas

Para pedagang kuliner di kampung turis Ubud harus pintar mencari celah agar usaha mereka bisa eksis. Untuk membangun sebuah image, mereka harus punya kuliner andalan dan panorama alam yang memadai. Seperti, Warung Sawah Indah yang berlokasi di Jalan Raya Goa Gajah, Teges Kangin, Peliatan, Ubud.

Bicara Kuliner di kampung turis Ubud selalu menarik untuk diikuti. Di kecamatan yang menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) terbesar di kabupetan Gianyar itu banyak dikenal makanan yang menjadi favorit turis, warga domestik, hingga pejabat tinggi. Sebut saja Bebek Bengil, Warung Guling Ibu Oka, Tepi Sawah dan lainnya. Kini, satu lagi warung yang ingin mengikuti sukses warung itu adalah Warung Sawah Indah yang mengandalkan gurami goreng dengan harga miring dan terjangkau bagi semua kalangan. Lokasinya kurang lebih 400 meter masuk ke utara di Jalan Raya Goa Gajah, Banjar Teges Kangin, Peliatan.

Warung yang juga menyediakan kolam pancing itu berdiri diatas lahan seluas 27 are. Lokasi warung yang dibuka 20 September lalu itu juga menghubungkan langsung ke sawah petani yang cukup luas. Nuansa tradisional menjadi andalan Warung Sawah Indah. “Kita ingin pengunjung makan sambil bersantai dengan suasana pedesaan yang kental,” kata Eka Sugiyantha, owner Sawah Indah.

Eka menyebutkan. selain gurami goreng dengan bumbu khas Bali juga dijual bebek goreng dengan harga terjangkau.”Sasaran kita bukan hanya wisatawan asing, tapi warga lokal. Jangan sampai warga lokal takut untuk datang,” ujar suami dari Yuli Setyawati itu. Sebulan buka, kata Eka, pengunjung yang datang cukup lumayan. Mereka berasal dari Jakarta, Surabaya, wisatawan asing hingga warga lokal.” View seperti ini membuat orang jadi betah,” ujarnya sambil menunjukan hamparan sawah. Pemandangan akan indah saat tanaman padi sedang tumbuh subur. Hamparan hijau akan terlihat jelas,” katanya meyakinkan.

Untuk memperkenalkan Sawah Indah yang dikelolanya. bapak satu anak itu mengaku melakukan banyak kiat. Selain aktif menyebarkan brosur ke berbagai tempat, pihaknya juga menyediakan kolam pancing bagi pengernar memancing. Nanti ikan yang didapatkan di kolam bisa dimasak di sini. Nanti ditimbang plus beli bumbu,” Sebutnya. Eka menegaskan, dirinya sama sekali tidak memiliki bakat kuliner. Cuma, istrinya Yuli Setyawati memang hoby memasak. Lantas kenapa memilih nama Sawah Indah ? Eka menjawab diplomatis, ini sesuai dengan lokasinya yang dekat sawah,” cetusnya.

Lantas berapa harga untuk ikan gurami ? Eka menyebutkan, untuk ikan gurami, pihaknya bisa menjual Rp 35 ribu, bebek goreng Rp 22 ribu dan lele Rp 10 ribu. “Satu keluarga tidak sampai menghabiskan uang banyak. Semuanya terjangkau,” tandasnya. Ditanya kritik yang datang dari pengunjung, Eja jujur mengakui masalah jalan yang belum di aspal. Memang jalannya sedikit bergelombang karena menuju areal sawah.”Kami berharap akses jalan ini segera mendapat perhatian pemerintah,” pungkasnya.

Duet Dibalik Tanjung Benoa Sebagai Kawasan Wisata

Pesatnya perkembangan Tanjung Benoa sebagai kawasan wisata tak lepas dari peran dua figur yakni I Wayan Ranten dan Dr. (Hons) Jro Gede Karang. Kedua figur ini oleh warga setempat diakui sebagai sosok yang berupaya dan berjuang menjadikan Tanjung Benoa sebagai kawasan wisata, karena sebelumnya Tanjung Benoa adalah jalur hijau yang ditumbuhi semak belukar dan di beberapa titik terlihat tandus dan gersang. “Jangankan beli dikasih minta pun orang gak mau karena semak belukar dan tidak produktif,” kisah I Wayan Ranten saat ditemui beberapa pekan lalu seraya memastikan di Novotel Benoa waktu itu juga masuk kawasan jalur hijau.

Setelah pemerintah merestui dan membukanya menjadi kawasan pariwisata, perlahan-lahan Tanjung Benoa mulai berbenah dengan melihat potensi masyarakatnya yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan. Maka alternative yang paling memungkinkan adalah mengembangkan menjadi kawasan wisata bahari. “Setelah dibuka jadi kawasan pariwisata tahun 1985 kami mulai bergerak dan bekerja keras untuk mengembangkan potensi kami. Berkat kerja keras lima tahun kemudian (1990) Tanjung Benoa eksis menjadi kawasan wisata khususnya bahari. Dan sejak saat itu daerah kami terkenal di seluruh Indonesia bahkan sampai ke mancanegara sebagai kawasan wisata bahari. Ini kerja keras kami bersama pak Jro Gede Karang meyakinkan pemerintah pusat dan provinsi agar kawasan Tanjung dibuka sebagai kawasan pariwisata,” cerita Pak Ranten sapaan akrabnya.

Dalam suatu kesempatan diskusi dengan wartawan di Bali Dr.(Hons) Jro Gede Karang (JGK) menceritakan berbagai upaya yang dilakukan untuk meyakinkan pemerintah pusat dan daerah agar membuka Tanjung Benoa sebagai kawasan pariwisata. “Memang dulunya daerah tersebut jalur hijau sesuai dengan Perda Bukit waktu itu. Karena kebutuhan wisatawan akan kamar begitu tinggi maka saya mengirim surat permohonan kepada Gubernur Bali untuk meninjau kembali perda bukit. Surat tersebut saya lampirkan dengan bukti-bukti bookingan yang tak bisa dipenuhi dari complain dan agent luar negeri yang tak bisa mendapat kamar di Bali,”ceritanya sembari menjelaskan saat itu Gubernur Bali (I.B. Mantra) mengatakan perubahan perda adalah hal yang sangat sulit tapi gubernur akan berusaha memanggil aparatnya dan bersama Ketua DPR Bali membentuk panitia untuk meninjau kembali Perda Bukit.

Gayung pun bersambut, upaya JGK tak sia-sia. Berselang beberapa minggu kemudian JGK di panggil Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk ikut memberikan masukan mengenai Master Plan Tanjung Benoa. “Saya kaget bercampur bangga karena usulan saya mendapat respons positif dari bapak gubernur. Sejak saat itu lokasi saya yang luasnya 3 hektar dan Tanjung Benoa secara umum dibebaskan dari Perda Bukit sehingga berubah menjadi kawasan pariwisata,”ungkap JGK berbangga.

Setelah menjadi kawasan pariwisata sempat muncul kekuatiran dari masyarakat setempat karena pariiwisata dianggap merusak dan tak membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Namun, JGK dan I Wayan Ranten membantah pendapat tersebut dan meyakinkan masyarakat pariwisata akan membawa perubahan ekonomi bagi masyarakat setempat. “Sejak jadi kawasan pariwisata kami yakin ada perkembangan dan perubahan Secara ekonomi karena Tanjung Benoa dekat dengan kawasan eksklusif BTDC, dekat juga dengan Kuta dan Sanur. Dengan pemahaman tersebut kekuatiran masyarakat pun hilang. Dan terbukti, kini, perubahan hidup masyarakat Tanjung Benoa luar biasa dan yang sebelumnya hanya seorang nelayan dan pencari batu kapur,” ujar JGK yang dibenarkan oleh coleganya Pak Ranten.

Akomodasi pioneer di Tanjung Benoa; Bali Resort (kini Novotel) tahun 1988, Bali Tropic Resort & Spa (1989 soft opening) menyusul Club Mirage, Melia Benoa, Ramada Benoa, Aston Bali dan
Peninsula.

Dulu Semak Belukar, Kini Semarak Sea Sport Activity

Sepuluh tahun terakhir wajah Tanjung Benoa berubah total dari yang sebelumnya dikelilingi semak belukar dan batu karang yang tandus. Perubahan tersebut akhirnya menempatkan Tanjung Benoa menjadi kawasan wisata yang sama dan sejajar dengan kawasan wisata lain seperti Sanur, Kuta, Nusa Dua dan Ubud. Bahkan kini Tanjung Benoa terkenal dengan brand yang sudah mendunia yakni sea sport activities pertama dan terbesar di Bali bahkan Indonesia.

parasailing-1Dulu mata pencaharian masyarakat setempat hanyalah nelayan, pemecah batu kapur dan mencari rumput laut untuk menunjang kepulan asap dapur dan membiayai pendidikan sekolah anak-anak. Kini semuanya telah beralih ke industri pariwisata khususnya sarana dan penunjang aktivitas water sports. Waktu itu mau beralih ke pariwisata namun muncul keraguan karena ada anggapan pariwisata itu jelek. Tapi setelah dijalani, semuanya sukses dan punya usaha sendiri. Kini, perubahan hidup masyarakat Tanjung Benoa luar biasa,” kata I Ketut Sukada Executive House Keeper Bali Tropic Resort & Spa sembari meminta terkait keadaan dan perkembangan Tanjung Benoa sebagai kawasan wisata sebaiknya mewawancarai Pak Jro Karang dan Wayan Ranten biar informasinya lebih sempurna. “Mereka adalah pelopor Tanjung Benoa sebagai kawasan wisata,” sebutnya.

Ditemui di tempat bisnisnya di Tanjung Benoa I Wayan Ranten membenarkan bahwa wajah Tanjung Benoa kini telah berubah setelah pemerintah daerah menjadikannya sebagai kawasan pariwisata sejak tahun 1985. “Dulu Tanjung Benoa hanyalah semak belukar dan tanahnya tandus. Sejak dibuka menjadi kawasan pariwisata terjadilah kemajuan yang pesat khususnya di bidang wisata bahari. Karena sebagian penduduknya punya pekerjaan sebagai nelayan maka sangat mudah dikembangkan menjadi wisata bahari. Tahun 1990 kawasan Tanjung Benoa sudah mulai eksis di bidang wisata bahari. Ini semua berkat kerja keras, jujur dan terbuka warga kami disini,”cerita Pak Ranten sapaan akrabnya

The owner Lingga Sempurna Water Sport ini menyebutkan, kini Tanjung Benoa telah semarak dengan sea sports activity yang hampir semua dikelola dan melibatkan masyarakat setempat. Sea sports activities lanjutnya, didukung oleh beberapa aktivitas dilaut yang memanjakan tubuh sekaligus menguji nyali seperti parasailing, jet sky, banana boat, scuba diving, flying fish, snorkeling, fishing dan trolying. “Semua ini dilakukan oleh wisatawan dengan aman dan nyaman karena dipandu oleh instruktur yang profesional dan sudah puluhan tahun menggeluti aktivitas ini,” kata pria yang punya moto berselimut angin berbantal ombak kapan dan dimana pun.

Pak Ranten memastikan tiap hari kurang lebih 500-600 wisatawan (domestik dan mancanegara) membaur di pantai Tanjung Benoa untuk melakukan sea sports activities. “Bila musim liburan sekolah dan high season jumlah kunjungan wisatawan ke Tanjung Benoa menembus angka 2 ribu,” sebutnya memastikan. Dalam waktu dekat pihaknya akan menghidupkan kembali Community Tanjung Benoa (CTB) yang pernah ada beberapa tahun lalu. “Kalau sebelumnya CTB hanya bergerak di bidang kebersihan dan pemberdayaan sumber daya manusia, maka community yang akan datang akan melingkup seluruh aspek yang bersentuhan langsung dengan Tanjung Benoa Sebagai kawasan wisata bahari pertama dan terbesar di Bali dan Indonesia,” tegasnya.

Kawasan wisata Tanjung Benoa berada di Kelurahan Tanjung Benoa sekitar 8 kilometer dari utara kawasan wisata BTDC Nusa Dua. Kelurahan Tanjung Benoa memiliki 6 banjar yakni banjar Tengkulung, banjarTengah, banjar Pascima, banjar Kangin, banjar Anyar dan banjar
Panca bhineka.

Merebut Rezeki Laut

Untung ada Tulamben Jukung Race 2009 dan Yacht Rally Sail Indonesia — Lovina 2009. Kendati event di Bali timur (Tulamben) dan Bali utara (Lovina) sepi publikasi, tapi mesti tetap diapresiasi sebagai revitalisasi promosi wisata bahari Bali, yang selama ini nyaris tak terdengar. Sejak pencanangan tahun 2009 sebagai Tahun Wisata Bahari, belum ada aktivitas atau event wisata bahari lainnya di Bali yang cukup penting untuk dicatat.

Adanya konsensus bahwa seni-budaya adalah ikon pariwisata Bali, ternyata berdampak seperti meninabobokan kalangan pelaku bisnis wisata dan instansi terkait. Sebab pengalaman selama ini menunjukkan, tanpa strategi promosi pun paket wisata budaya Bali sudah punya selling point. Jadi, tidak ada urgensinya lagi misalnya untuk pengembangan wisata alternatif (wisata bahari). Aksi promosi pun terkesan hanya basa-basi. Misi budaya, promosi wisata atau apapun dipakai kemasannya, “melali massal” para aparat ke luar negeri, tetap saja hanya mengesankan buang-buang uang dan pajak rakyat.

Padahal jika ketergantungan pihak Pemda mengandalkan perolehan PAD dari Pajak Hotel dan Restoran (PHR), aparat terkait tentu dituntut super aktif kreatif dan lebih inovatif mengambangkan potensi wisata Bali sebagai sumber pajak daerah. Dalam konteks ini kita tak akan pernah berhenti untuk selalu mengingatkan, bahwa para pelaku bisnis wisata dan instansi terkait untuk lebih sungguh-sungguh mengantisipasi dan menyikapi wacana ancaman kejenuhan terhadap atraksi dari objek wisata Bali. Indikasi kejenuhan itu antara lain banyaknya keluhan wisatawan akan makin sesaknya lingkungan atau objek wisata dengan aneka properti yang dulu dikenal sebagai kawasan wisata nyaman dan hijau royo-royo.

Salah satu solusi yang kita tawarkan adalah menoleh ke laut. Dengan kreativitas potensi laut bisa dikemas menjadi aneka paket wisata bahari yang menarik hati wisatawan dalam maupun luar negeri. Rezeki laut harus kita rebut! Sebab, saat ini belum semua potensi wisata laut di kawasan Bali timur (Tulamben, Amed, Tanah Ampo) dan Bali utara(Lovina, Pemuteran, Pulau Menjangan) tergali.

Dari pengelolaan kawasan wisata bahari yang telah relatif sukses, seperti di Sumatra (Batam, Belitung), Jakarta (Muara Baru, Ancol, Pulau Seribu), atau Sulawesi (Bunaken, Wakatobi) dan Bali (Pemuteran, Lembongan, Jimbaran, Tanjung Benoa) kawasan wisata bahari bisa dikemas jadi one stop reckreation and shoping. Artinya, selain menyediakan segala fasilitas untuk segala aktivitas bahari, berenang, menyelam, kano, atau mendayung, dan penginapan bernuansa laut, juga tersedia pasar ikan bagi nelayan, dan kuliner atau Pujasera (pusat jajan serba ada) khusus aneka menu hasil laut, baik untuk masakan lokal maupun menu kontinental. Dengan catatan, pengembangan potensi laut atau bahari harus tetap melibatkan masyarakat setempat dan satu paket dengan upaya pelestarian alam dan penyelamatan biota laut, maka tak perlu pakai ribut-ribut rezeki dari laut akan dapat direbut.

Menguak Potensi Wisata Bahari Bali

Tulamben Jukung Race 2009 dan Yacht Rally Sail Indonesia — Lovina 2009, harus diapresiasi sebagai revitalisasi promosi wisata bahari Bali. Sejak pencanangan tahun 2009 sebagai “Tahun Wisata Bahari” awal tahun lalu, aktivitas wisata bahari Bali nyaris tak terdengar. Realitas ini paradoks dengan momentum tahun wisata bahari yang dengan gemilang di-blowup oleh Sail Bunaken Indonesia 2009 (Sulut) dan Takabonerate Island Expedition 2009 (Sulsel). Kata kunci strategi promosi akbar wisata bahari yang digelar di kawasan Indonesia timur adalah partisipasi aktif seluruh potensi Pemda di kedua provinsi yang sangat progresif itu.

Membandingkan dengan kondisi wisata bahari Bali, sungguh bertolak belakang, bagai siang dan malam. Aparat terkait bagai tak peduli dengan momentum yang dikibarkan Kementerian Pariwisata dan Budaya sejak awal tahun lalu. Untung di pengujung tahun wisata bahari 2009 ini muncul “gebrakan kecil” dari kawasan wisata Bali timur (Tulamben) dan Bali utara (Lovina). Memang kurang adil jika membandingkan dua event spektakuler di kawasan Indonesia timur (Sulut, Sulsel) yang didukung penuh Pemda setempat. Mengingat, panitia acara di Lovina dan Tulamben nyaris berjalan sendiri, dan aparat terkait cenderung pasif baik dalam kontribusi visi maupun gizi (dana).

“Ya sudah bertahun-tahun dalam urusan aktivitas untuk pengembangan dan promosi kami terpaksa mandiri dan jalan sendiri.” ungkap seorang staf panitia Tulamben Jukung Race 2009. “Kawasan ini memang belum jadi skala prioritas program pembangunan Pemda. Semampunya kita tetap jalan sendiri…”

Dari catatan data, sampai Tulamben Jukung Race masuk tahun ketiga nyaris seluruh dana penyelengaraan dibebankan kepada manajemen Emerald Tulamben Hotel & Spa. “Ya, dengan anggaran pas-pasan sesuai kondisi pemasukan hotel yang belum maksimal, kita berharap acara ini masih tetap bisa berlangsung rutin tiap tahun,” tekad Thomas T. lnoue, pemilik hotel berbintang di Tulamben itu.

Potensi & Rezeki

Tapi, di luar dugaan walau sepi promosi dan terkesan jalan sendiri kegiatan wisata bahari dan wisata tirta di Bali kini kian memperlihatkan giginya sebagai salah satu attraksi favorit wisatawan. Hal ini terbukti dengan banyaknya akomodasi kepariwisataan yang mencari daerah pesisir sebagai background-nya. “Fenomena ini tentu dapat menjadi contoh kecil bahwa perairan di Bali menjadi sebuah aset yang sangat berharga dan menarik bagi wisatawan” demikian diungkapkan Yos Amerta Ketua Gahawisri Bali.

Peluang mengembangkan busnis wisata bahari di Bali sungguh terbuka luas. Pulau Bali memiliki pantai sepanjang 430 km, dan sekitar 177,8 km berpotensi untuk dikembangkan sebagai wisata bahari. Sekarang ini, Bali memiliki sekitar 172-an pengusaha atraksi wisata tirta dan sebanyak 85 % berupa diving dan rekreasi air. Bahkan Bali sebenarnya memiliki kawasan wisata bahari terbaik saat ini di Indonesia. Sanur, Tanjung Benoa, Nusa Penida, Nusa Lembongan, Padang Bay, Candidasa, Amed, Tulamben, Lovina, Pamuteran, Menjangan dan Secret Bay adalah beberapa daerah yang banyak dimanfaatkan untuk kegiatan wisata ini.

Namun, rezeki dan potensi wisata bahari Bali akan bisa dipetik lebih maksimal jika sudah disukung peraturan daerah yang mengatur mengenai tata ruang laut terutama dalam hal carring capacity. “Hingga saat ini belum adanya Perda yang mengatur hal ini sehingga terkesan tak ada perhatian dari pemerintah” tambahnya. Jika hal ini terus berlanjut hal yang paling ditakutkan akan terjadi adalah over load di sebuah kawasan. Di samping membahayakan keselamatan tentunya fenomena ini juga menimbulkan persaingan yang tidak sehat diantara para pengusaha.

Seharusnya untuk menghindari persaingan ini pemerintah dapat melakukan sebuah studi tata ruang. Disamping itu perizinan pun harus dapat lebih selektif diberikan oleh dinas terkait yang dalam hal ini dinas pariwisata, perhubungan dan dinas tenaga kerja. “Kami sudah berulang kali membahas mengenai hal ini namun realisasinya selalu buntu karena terbentur masalah dana,” kata Yos.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa sebenarnya kegiatan wisata bahari di Bali telah memiliki pasar sendiri untuk dikembangkan. Namun sayangnya ada lima hal klasik yang menyebabkan jenis attraksi ini terlihat belum maksimal penggarapannya. “Promosi, marketing strategi, kecepatan merespon pasar dan SDM, adaah kelemahan kita dalam dunia pariwisata,”tegasnya.

Restorasi Terumbu Karang Ikon Fiesta Nusa Dua Bali

Selain restorasi terumbu karang ada beberapa aktivitas baru yang merupakan kreasi dan inovasi dari BTDC untuk melibatkan stakeholder dan masyarakat pada Nusa Dua Fiesta tahun 2009. Selain bermanfaat untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya fungsi terumbu karang, program Coral Restoration (restorasi karang) sebagai upaya untuk memperbaiki terumbu karang, dimana terumbuh karang sebagai organisme yang mampu menghasilkan O2 mengurangi pemanasan global (global warming). “Langkah perbaikan yang dilakukan adalah pada awal program ini BTDC akan menempatkan 16 Karang buatan (Submarine Reef) yang akan dilaksanakan pada tanggal 6 Oktober 2009. Transplantasi Karang (Reef Transpiatation) yang akan dilaksanakan pada tanggal 20 Oktober 2009, yang menjadi salah satu kegiatan Nusa Dua Fiesta 2009,” kata Panama Hutasoit Kordinator Coral Restoration Nusa Dua Fiesta 2009.

Ketua Umum Nusa Dua Fiesta Drs.Solichin mengakui ada beberapa aktivitas baru pada Nusa Dua Fiesta kerjasama BTDC dengan stake holder dan masyarakat. “Salah satunya adalah restorasi coral. Saya pikir ini suatu terobosan untuk melestarikan terumbu karang yang sudah terdegradasi,”kata Solichin sembari menjelaskan aktivitas lain yang dibilang baru yakni Garuda Indonesia Bali International Marathon dilaksanakan pada tanggal 18 Oktober 2009 yang akan diikuti 10.000 dan Lomba Merias 300 Pengantin Tradisional Bali (modifikasi) yang akan memecahkan rekor Muri.

Selain itu lanjutnya, ada juga pelepasan tukik (Turtle Release) Green Camp Nusa Dua Fiesta 2009, merupakan kelompok anak-anak peduli lingkungan (Environment Kids Club) adalah anak-anak tingkat Sekolah Dasar sekelurahan Benoa, yang dimentori oleh hotel-hotel di Nusa Dua. “Acara dipandu oleh Dik Doang dan kegiatannya adalah mengajak anak-anak untuk peduli lingkungan, dengan melestarikan laut dan pesisir dari segala isinya dalam bentuk permainan maupun lomba lukis,”ungkapnya. Juga Parade Jukung traditional dan Nusa Dua Golf tournament memperebutkan piala Menteri BUMN yang akan dilaksariakan pada tanggal 17 Oktober 2009. “Garuda Indonesia Bali International Marathon dilaksanakan pada tanggal 18 Oktober 2009 yang akan diikuti 10.000 orang pelari, baik dari dalam maupun mancanegara mewamai Nusa Dua Fiesta tahun ini, sebutnya menjelaskan Nusa Dua Fiesta 2009 berlangsung selama 5 hari diikuti oleh 20 Propinsi, 27 Kabupaten/Kota, 2 Departemen dan 5 BUMN di Indonesia, serta kurang lebih 100 stand/booth dengan harga per stand/booth sebesar Rp. 13 juta rupiah.

Menurut Panama berdasarkan penelitian untuk mengkaji struktur ekologi komunitas karang dan ikan karang di kawasan pesisir BTDC Nusa Dua, Bali (Juli 2009), diketahul bahwa sebaran terumbu karang di kawasan pesisir BTDC Nusa Dua, (manta tow survey), menunjukan hamparan habitat terumbu karang dengan tipe gugusan terumbu tepi yang berbentuk flat (datar) dan slope (miring) serta karakteristik perairan laut andai dengan hamparan pasir putih dan banyak dimanfaatkan untuk aktifitas pariwisata. Kondisi terumbu karang dengan penekanan pada persentase tutupan karang batu atau hard coral menunjukkan kondisi terumbu karang Nusa Dua termasuk ke dalarn kategori sedang sampai dengan baik. Sedangkan analisa terhadap keanekaragaman ikan menunjukkan bahwa family Acanthuridae, Chaetodontidae, dan Pomacentridae merupakan kelompok yang paling sering ditemukan di kawasan ini dengan jumlah individu yang relatif banyak.

Seperti kondisi terumbu karang lainnya di Indonesia yang mengalami kerusakan, baik akibat tekanan alami maupun antropogenik yang disebabkan dampak lokal manusia, terumbu karang Nusa Dua juga mengalami tekanan serupa. Beberapa hamparan patahan karang (rubble) ditemukan di beberapa tempat. “Penyebabnya kemungkinan terinjak jangkar atau bom ikan di masa lalu. Praktek perikanan merusak, seperti penangkapan ikan hias dan konsumsi menggunakan potasium sianida juga ditengarai pernah terjadi di masa laIu di kawasan ini. Namun, kini seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat lokal Nusa Dua dan juga nilai tambah yang diperoleh lewat pariwisata bahari yang telah dirasakan, praktek perikanan merusak sudah berhenti. Begitupun dengan dibangunnya penambat apung (mooring buoy) untuk mencegah penjangkaran ke karang,”bebernya.

Meskipun praktek merusak telah dihentikan, namun kerusakan ekologi yang telah terjadi, ayak mendapat perhatian semua pihak. Bali Tourism Development Corporation (BTDC) selalu pengelola kawasan resor Nusa Dua melakukan inisiatif melakukan pemulihan ekosistem yang telah terdegradasi, lewat program restorasi karang. Selain bermanfaat untuk menumbuhkan kesadaran akar pentingnya fungsi terumbu karang, program Coral Restoration (restorasi karang), sebagai wujud upaya memperbaiki terumbu karang yang selama ini telah rusak ataupun presentase penutupannya sangat sedikit.

“Ngembak Geni” Wisdom Padati Pesisir Buleleng

Sudah menjadi kebiasaan setelah melaksanakan brata penyepian hari Ngembak Geni, Rabu kemarin dimanfaatkan oleh warga di Buleleng untuk berwisata.

Pesisir pantai menjadi salah satu objek wisata yang padat pengunjung. Bahkan kunjungan wisatawan domestik (wisdom) kemarin bukan saja warga kota, namun warga dari pelosok desa di Bali Utara ramai-ramai piknik di tepi pantai.

Kunjungan terlihat di kawasan wisata Lovina, lalu lalang kendaraan pengunjung terjadi sejak pagi. Selain kendaraan roda dua banyak juga wisdom yang datang dengan rombongan. Pengunjung tidak saja menikmati suasana pantai berombak tenang, tetapi pengunjung banyak yang berenang.
Pemandangan sama terlihat di objek wisata Pantai Penimbangan, Singaraja. Kawasan yang terkenal untuk kalangan anak-anak muda saja, pada hari Ngembak Geni kawasan ini menjadi padat pengunjung dari anak-anak hingga orang dewasa.

Menurut petugas parkir di kawasan setempat, tiap libur hari raya pengunjung jauh lebih ramai dibandingkan hari biasanya. Bahkan pada libur hari raya ruas parkir yang tersedia tidak menampung kendaraan yang masuk ke kawasan Penimbangan.

Hal ini membuat parkir kendaraan pengunjung menjadi tidak teratur, sehingga seringkali menimbulkan kemacetan. Apalagi di pinggir jalan berjejer lapak pedagang jagung bakar, sehingga mempersimpit jalur kendaraan yang masuk.

Selain itu, suasana hari raya nyepi hingga kemarin masih terasa. Bahkan pedagang di pasar-pasar tradisional memilih tutup. Hanya pedagang yang beragama lain yang membuka usaha di hari Ngembak Geni. Seperti yang terlihat di Pasar Seririt kios maupun lapak pedagang terlihat tutup. Demikian pula beberapa toko di wilayah kecamatan yang dikenal dengan segitiga emas ini menutup usaha.

Wisata Bahari Tetap Menjanjikan

Bentangan pesisir sepanjang 87 kilometer di Karangasem dengan sejumlah titik yang kerap dikunjungi di antaranya pantai Tulamben, Candidasa, Amed, Padangbai maupun kawasan pantai lainnya sangat potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata bahari.

Meski wisata bahari cukup menjanjikan, namun sampai sekarang peran pemerintah dalam mengembangkan wisata bahari belum maksimal. Selama ini beberapa titik yang ramai dikunjungi seperti kawasan Amed yang dikenal memiliki keindahan biota laut luar biasa, lebih banyak peran swasta dalam pengelolaannya.

Prospek wisata bahari di Karangasem sangat cerah, mengingat banyak lokasi wisata bahari yang dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara. Salah satu wisata bahari yang ada di wilayah Amed yaitu diving, wisata bahari ini sudah dikelola dengan baik. Wisatawan asing banyak yang berdatangan, di antaranya dari Amerika Serikat, Kanada , Australia maupun Jepang.

Wisatawan ini datang khusus melakukan penyelaman untuk melihat biota bawah laut. Patut disyukuri dalam perjalanan pengembangan wisata menyelam, tidak menemui kendala yang berarti. Wisatawan mancanegara yang datang juga memberikan apresiasi positif terhadap wisata bahari. Dikatakan, wisatawan justru banyak yang mengeluhkan Visa on Arrival (VoA) yang dikeluarkan negaranya dalam kunjungannya ke Indonesia.

Dengan demikian, banyak wisatawan yang semula akan berkunjung ke Bali, mengalihkan rencana perjalanannya ke Thailand. Disebutkan, negara yang masih memberlakukan VoA di antaranya Australia, Prancis, AS dan negara-negara Eropa.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Karangasem mengakui, pengelolaan wisata bahari lebih banyak dilakukan langsung pihak swasta dan pelaku pariwisata. “Kami bukan lembaga bisnis, kewajiban pemerintah hanya sebatas menyiapkan infrastruktur,” katanya.

Salah satu upaya untuk menunjang perkembangan wisata bahari, pemerintah sudah membangun infrastruktur untuk penambatan jukung diving sehingga tidak merusak terumbu karang.