Search

PostHeaderIcon Duet Dibalik Tanjung Benoa Sebagai Kawasan Wisata

Pesatnya perkembangan Tanjung Benoa sebagai kawasan wisata tak lepas dari peran dua figur yakni I Wayan Ranten dan Dr. (Hons) Jro Gede Karang. Kedua figur ini oleh warga setempat diakui sebagai sosok yang berupaya dan berjuang menjadikan Tanjung Benoa sebagai kawasan wisata, karena sebelumnya Tanjung Benoa adalah jalur hijau yang ditumbuhi semak belukar dan di beberapa titik terlihat tandus dan gersang. “Jangankan beli dikasih minta pun orang gak mau karena semak belukar dan tidak produktif,” kisah I Wayan Ranten saat ditemui beberapa pekan lalu seraya memastikan di Novotel Benoa waktu itu juga masuk kawasan jalur hijau.

Setelah pemerintah merestui dan membukanya menjadi kawasan pariwisata, perlahan-lahan Tanjung Benoa mulai berbenah dengan melihat potensi masyarakatnya yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan. Maka alternative yang paling memungkinkan adalah mengembangkan menjadi kawasan wisata bahari. “Setelah dibuka jadi kawasan pariwisata tahun 1985 kami mulai bergerak dan bekerja keras untuk mengembangkan potensi kami. Berkat kerja keras lima tahun kemudian (1990) Tanjung Benoa eksis menjadi kawasan wisata khususnya bahari. Dan sejak saat itu daerah kami terkenal di seluruh Indonesia bahkan sampai ke mancanegara sebagai kawasan wisata bahari. Ini kerja keras kami bersama pak Jro Gede Karang meyakinkan pemerintah pusat dan provinsi agar kawasan Tanjung dibuka sebagai kawasan pariwisata,” cerita Pak Ranten sapaan akrabnya.

Dalam suatu kesempatan diskusi dengan wartawan di Bali Dr.(Hons) Jro Gede Karang (JGK) menceritakan berbagai upaya yang dilakukan untuk meyakinkan pemerintah pusat dan daerah agar membuka Tanjung Benoa sebagai kawasan pariwisata. “Memang dulunya daerah tersebut jalur hijau sesuai dengan Perda Bukit waktu itu. Karena kebutuhan wisatawan akan kamar begitu tinggi maka saya mengirim surat permohonan kepada Gubernur Bali untuk meninjau kembali perda bukit. Surat tersebut saya lampirkan dengan bukti-bukti bookingan yang tak bisa dipenuhi dari complain dan agent luar negeri yang tak bisa mendapat kamar di Bali,”ceritanya sembari menjelaskan saat itu Gubernur Bali (I.B. Mantra) mengatakan perubahan perda adalah hal yang sangat sulit tapi gubernur akan berusaha memanggil aparatnya dan bersama Ketua DPR Bali membentuk panitia untuk meninjau kembali Perda Bukit.

Gayung pun bersambut, upaya JGK tak sia-sia. Berselang beberapa minggu kemudian JGK di panggil Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk ikut memberikan masukan mengenai Master Plan Tanjung Benoa. “Saya kaget bercampur bangga karena usulan saya mendapat respons positif dari bapak gubernur. Sejak saat itu lokasi saya yang luasnya 3 hektar dan Tanjung Benoa secara umum dibebaskan dari Perda Bukit sehingga berubah menjadi kawasan pariwisata,”ungkap JGK berbangga.

Setelah menjadi kawasan pariwisata sempat muncul kekuatiran dari masyarakat setempat karena pariiwisata dianggap merusak dan tak membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Namun, JGK dan I Wayan Ranten membantah pendapat tersebut dan meyakinkan masyarakat pariwisata akan membawa perubahan ekonomi bagi masyarakat setempat. “Sejak jadi kawasan pariwisata kami yakin ada perkembangan dan perubahan Secara ekonomi karena Tanjung Benoa dekat dengan kawasan eksklusif BTDC, dekat juga dengan Kuta dan Sanur. Dengan pemahaman tersebut kekuatiran masyarakat pun hilang. Dan terbukti, kini, perubahan hidup masyarakat Tanjung Benoa luar biasa dan yang sebelumnya hanya seorang nelayan dan pencari batu kapur,” ujar JGK yang dibenarkan oleh coleganya Pak Ranten.

Akomodasi pioneer di Tanjung Benoa; Bali Resort (kini Novotel) tahun 1988, Bali Tropic Resort & Spa (1989 soft opening) menyusul Club Mirage, Melia Benoa, Ramada Benoa, Aston Bali dan
Peninsula.

Leave a Reply

Please insert the signs in the image: