Search

PostHeaderIcon Menguak Potensi Wisata Bahari Bali

Tulamben Jukung Race 2009 dan Yacht Rally Sail Indonesia — Lovina 2009, harus diapresiasi sebagai revitalisasi promosi wisata bahari Bali. Sejak pencanangan tahun 2009 sebagai “Tahun Wisata Bahari” awal tahun lalu, aktivitas wisata bahari Bali nyaris tak terdengar. Realitas ini paradoks dengan momentum tahun wisata bahari yang dengan gemilang di-blowup oleh Sail Bunaken Indonesia 2009 (Sulut) dan Takabonerate Island Expedition 2009 (Sulsel). Kata kunci strategi promosi akbar wisata bahari yang digelar di kawasan Indonesia timur adalah partisipasi aktif seluruh potensi Pemda di kedua provinsi yang sangat progresif itu.

Membandingkan dengan kondisi wisata bahari Bali, sungguh bertolak belakang, bagai siang dan malam. Aparat terkait bagai tak peduli dengan momentum yang dikibarkan Kementerian Pariwisata dan Budaya sejak awal tahun lalu. Untung di pengujung tahun wisata bahari 2009 ini muncul “gebrakan kecil” dari kawasan wisata Bali timur (Tulamben) dan Bali utara (Lovina). Memang kurang adil jika membandingkan dua event spektakuler di kawasan Indonesia timur (Sulut, Sulsel) yang didukung penuh Pemda setempat. Mengingat, panitia acara di Lovina dan Tulamben nyaris berjalan sendiri, dan aparat terkait cenderung pasif baik dalam kontribusi visi maupun gizi (dana).

“Ya sudah bertahun-tahun dalam urusan aktivitas untuk pengembangan dan promosi kami terpaksa mandiri dan jalan sendiri.” ungkap seorang staf panitia Tulamben Jukung Race 2009. “Kawasan ini memang belum jadi skala prioritas program pembangunan Pemda. Semampunya kita tetap jalan sendiri…”

Dari catatan data, sampai Tulamben Jukung Race masuk tahun ketiga nyaris seluruh dana penyelengaraan dibebankan kepada manajemen Emerald Tulamben Hotel & Spa. “Ya, dengan anggaran pas-pasan sesuai kondisi pemasukan hotel yang belum maksimal, kita berharap acara ini masih tetap bisa berlangsung rutin tiap tahun,” tekad Thomas T. lnoue, pemilik hotel berbintang di Tulamben itu.

Potensi & Rezeki

Tapi, di luar dugaan walau sepi promosi dan terkesan jalan sendiri kegiatan wisata bahari dan wisata tirta di Bali kini kian memperlihatkan giginya sebagai salah satu attraksi favorit wisatawan. Hal ini terbukti dengan banyaknya akomodasi kepariwisataan yang mencari daerah pesisir sebagai background-nya. “Fenomena ini tentu dapat menjadi contoh kecil bahwa perairan di Bali menjadi sebuah aset yang sangat berharga dan menarik bagi wisatawan” demikian diungkapkan Yos Amerta Ketua Gahawisri Bali.

Peluang mengembangkan busnis wisata bahari di Bali sungguh terbuka luas. Pulau Bali memiliki pantai sepanjang 430 km, dan sekitar 177,8 km berpotensi untuk dikembangkan sebagai wisata bahari. Sekarang ini, Bali memiliki sekitar 172-an pengusaha atraksi wisata tirta dan sebanyak 85 % berupa diving dan rekreasi air. Bahkan Bali sebenarnya memiliki kawasan wisata bahari terbaik saat ini di Indonesia. Sanur, Tanjung Benoa, Nusa Penida, Nusa Lembongan, Padang Bay, Candidasa, Amed, Tulamben, Lovina, Pamuteran, Menjangan dan Secret Bay adalah beberapa daerah yang banyak dimanfaatkan untuk kegiatan wisata ini.

Namun, rezeki dan potensi wisata bahari Bali akan bisa dipetik lebih maksimal jika sudah disukung peraturan daerah yang mengatur mengenai tata ruang laut terutama dalam hal carring capacity. “Hingga saat ini belum adanya Perda yang mengatur hal ini sehingga terkesan tak ada perhatian dari pemerintah” tambahnya. Jika hal ini terus berlanjut hal yang paling ditakutkan akan terjadi adalah over load di sebuah kawasan. Di samping membahayakan keselamatan tentunya fenomena ini juga menimbulkan persaingan yang tidak sehat diantara para pengusaha.

Seharusnya untuk menghindari persaingan ini pemerintah dapat melakukan sebuah studi tata ruang. Disamping itu perizinan pun harus dapat lebih selektif diberikan oleh dinas terkait yang dalam hal ini dinas pariwisata, perhubungan dan dinas tenaga kerja. “Kami sudah berulang kali membahas mengenai hal ini namun realisasinya selalu buntu karena terbentur masalah dana,” kata Yos.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa sebenarnya kegiatan wisata bahari di Bali telah memiliki pasar sendiri untuk dikembangkan. Namun sayangnya ada lima hal klasik yang menyebabkan jenis attraksi ini terlihat belum maksimal penggarapannya. “Promosi, marketing strategi, kecepatan merespon pasar dan SDM, adaah kelemahan kita dalam dunia pariwisata,”tegasnya.

Leave a Reply

Please insert the signs in the image: