Search

PostHeaderIcon Merebut Rezeki Laut

Untung ada Tulamben Jukung Race 2009 dan Yacht Rally Sail Indonesia — Lovina 2009. Kendati event di Bali timur (Tulamben) dan Bali utara (Lovina) sepi publikasi, tapi mesti tetap diapresiasi sebagai revitalisasi promosi wisata bahari Bali, yang selama ini nyaris tak terdengar. Sejak pencanangan tahun 2009 sebagai Tahun Wisata Bahari, belum ada aktivitas atau event wisata bahari lainnya di Bali yang cukup penting untuk dicatat.

Adanya konsensus bahwa seni-budaya adalah ikon pariwisata Bali, ternyata berdampak seperti meninabobokan kalangan pelaku bisnis wisata dan instansi terkait. Sebab pengalaman selama ini menunjukkan, tanpa strategi promosi pun paket wisata budaya Bali sudah punya selling point. Jadi, tidak ada urgensinya lagi misalnya untuk pengembangan wisata alternatif (wisata bahari). Aksi promosi pun terkesan hanya basa-basi. Misi budaya, promosi wisata atau apapun dipakai kemasannya, “melali massal” para aparat ke luar negeri, tetap saja hanya mengesankan buang-buang uang dan pajak rakyat.

Padahal jika ketergantungan pihak Pemda mengandalkan perolehan PAD dari Pajak Hotel dan Restoran (PHR), aparat terkait tentu dituntut super aktif kreatif dan lebih inovatif mengambangkan potensi wisata Bali sebagai sumber pajak daerah. Dalam konteks ini kita tak akan pernah berhenti untuk selalu mengingatkan, bahwa para pelaku bisnis wisata dan instansi terkait untuk lebih sungguh-sungguh mengantisipasi dan menyikapi wacana ancaman kejenuhan terhadap atraksi dari objek wisata Bali. Indikasi kejenuhan itu antara lain banyaknya keluhan wisatawan akan makin sesaknya lingkungan atau objek wisata dengan aneka properti yang dulu dikenal sebagai kawasan wisata nyaman dan hijau royo-royo.

Salah satu solusi yang kita tawarkan adalah menoleh ke laut. Dengan kreativitas potensi laut bisa dikemas menjadi aneka paket wisata bahari yang menarik hati wisatawan dalam maupun luar negeri. Rezeki laut harus kita rebut! Sebab, saat ini belum semua potensi wisata laut di kawasan Bali timur (Tulamben, Amed, Tanah Ampo) dan Bali utara(Lovina, Pemuteran, Pulau Menjangan) tergali.

Dari pengelolaan kawasan wisata bahari yang telah relatif sukses, seperti di Sumatra (Batam, Belitung), Jakarta (Muara Baru, Ancol, Pulau Seribu), atau Sulawesi (Bunaken, Wakatobi) dan Bali (Pemuteran, Lembongan, Jimbaran, Tanjung Benoa) kawasan wisata bahari bisa dikemas jadi one stop reckreation and shoping. Artinya, selain menyediakan segala fasilitas untuk segala aktivitas bahari, berenang, menyelam, kano, atau mendayung, dan penginapan bernuansa laut, juga tersedia pasar ikan bagi nelayan, dan kuliner atau Pujasera (pusat jajan serba ada) khusus aneka menu hasil laut, baik untuk masakan lokal maupun menu kontinental. Dengan catatan, pengembangan potensi laut atau bahari harus tetap melibatkan masyarakat setempat dan satu paket dengan upaya pelestarian alam dan penyelamatan biota laut, maka tak perlu pakai ribut-ribut rezeki dari laut akan dapat direbut.

Leave a Reply

Please insert the signs in the image: