Search

Archive for the ‘Berita Bali’ Category

PostHeaderIcon Pantai Ketewel Kotor Bule Ogah Selancar

Cuaca yang tak menentu membuat sejumlah pantai banyak mendapat sampah kiriman. Salah satunya Pantal Ketewel, Sukawati, Gianyar. Sepanjang mata memandang, hampir di setiap sudutnya penuh sampah. Takayal, hal ini mengganggu kenyamanan para wisatawan yang berkunjung.
Michael Suchman, 45, salah satu wisatawan yang tengah mampir ke pantai, mengaku kecewa,  ketika tiba,  mata sudah disuguhkan sampah.  Mulai dari plastik, bekas makanan, hingga potongan kayu berserakan di bibir pantai. Sehingga, belum lama tiba di lokasi, dirinya bersama rekari-rekannya yang lain, lantas memilih pergi meninggalkan lokasi. “Penuh sampah dan terlihat jorok. Lebih baik, saya pilih tempat lain saja,” protes Suchman, wisatawan asal Inggris ini, saat ditemul di Pantai Ketewel.

Hal senada disampaikan Jenny Joane, 30, rekannya, meski menyadarii jika sampah tersebut merupakan kiriman dan laut, dirinya enggan untuk singgah. Sebab, kondisi tersebut, tidak membuatnya nyaman untuk menikmati
pemandangan sekitar pantai.  ‘Niatnya mau berselancar di sini. Sebab, ombaknya cukup bagus kata teman-teman. Tapi, pas tiba di sini, kondisinva malah seperti ini,” sesalnya. Meski pantai penuh sampah, hal ini merupakan berkah bagi Ni Wayan Rene, 60. Pasalnya, hal ini dapat mempermudah warga Banjar Ketewel, Sukawati ini, dalam mencari kayu bakar. Makium, dapur yang dimiliki Rene, masih menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakarnya.

“Kayu-kayu ini, nantinya saya gunakan sebagal kayu bakar untuk masak. Lumayan, saya tidak perlu susah payah untuk mencari kayu,” ujar Rene, saat ditemui di Pantai Ketewel. Katanya, sebelum kayu-kayu itu digunakan, terlebih dahulu dikeringkan. Namun, karena cuaca tengah tak menentu, maka disimpan terlebih dahulu, sembari menunggu datangnya matahari. “Disimpan dulu, nak, sambil nunggu matahari. Sebab, kalau langsung digunakan, malah tidak mau nyala. Kan kayunya masih basah,” lontarnya semban tersenyum.

PostHeaderIcon Wisata Bahari di Lovina Ditutup Karena Cuaca Buruk

Puluhan orang pemandu wisata bahari di Pantai Lovina, Kecamatan Buleleng mendadak tidak melaut. Padahal, wisatawan asing maupun tamu lokal sudah banyak yang memesan untuk tour melihat dolphin ataupun snorkeling. Hal ini menyusul hujan disertai angin kencang melanda Buleleng sejak beberapa hari terakhir. Pantai yang biasanya tenang, beberapa hari terakhir ini gelombangnya naik hingga 1,5 meter. Semua kapten (pengemudi perahu-red) hanya bisa duduk-duduk di tepi pantai sambil membersihkan perahu mereka. Para kapten ini hanya bisa pasrah karena mereka tidak bisa mengantarkan wisatawan untuk tour ke tengah laut akibat cuaca buruk. Bahkan, order yang mereka terima dari tamu maupun pengelola hotel terpaksa dibatalkan.

Adapun alasan tidak melayani tamu karena dikhawatirkan dengan keselamatan tamu yang diantarkan tour ke tengah laut karena cuaca buruk akhir-akhir ini. Padahal, puluhan tamu asing sudah mem-booking sejak jauh-jauh hari. Ini dikarenakan ombak besar membuat takut untuk melaut. Wisatawan yang sudah pesan terpaksa dibatalkan.

Sementara itu, tour ini juga belum bisa dipastikan kapan akan bisa melaut. Sebab, masalah cuaca di laut sangat sulit untuk diprediksi. Terkadang dari daratan cuaca biasa-biasa saja, namun setelah di tengah laut tiba-tiba turun hujan deras disertai angin kencang. Dengan kondisi ini maka diputuskan untuk tidak melayani tamu beberapa hari ke depan hingga cuaca benar-benar kembali normal.

Sementara itu, di Lovina wisata bahari dengan konsep tour ke tengah laut dengan objek dolphin dan juga snorkeling. Jasa wisata bahari ini dikelola oleh puluhan warga di Desa Kalibukbuk dan mereka kini sudah tergabung dalam organisasi Catur Karya Bhakti Segara. Satu kali melaut menempuh waktu perjalanan antara 1 hingga 3 jam. Untuk tamu asing jasa ini banyak dinikmati oleh wisatawan asal Eropa, Belanda, Pranscis, dan Australia. Sementara wisatawan lokal kebanyakan dari Jakarta, Surabaya , dan kota-kota besar lainnya.

PostHeaderIcon Potensi Desa Wisata Tabanan tak Tergarap

Kabupaten Tabanan yang menyimpan banyak potensi desa wisata, kini menghadapi kendala minimnya anggaran sehingga potensi-potensi itu tidak tergarap. Seperti halnya semua potensi desa wisata belum digarap maksimal karena keterbatasan anggaran yang ada.

Selain masalah anggaran, Tabanan juga menghadapi masalah kurangnya sumber daya manusia dan faktor minimnya daya dukung dari pemerintah untuk pengembangan desa wisata. Akibat keterbatasan tersebut, untuk sementara Tabanan hanya memfokuskan tiga desa yang dipakai sebagai proyek pengembangan desa wisata. Ketiga desa dimaksud adalah Candi Kuning di Kecamatan Baturiti, Desa Belimbing dan Desa Munduk Temu, keduanya berada di Kecamatan Pupuan.

Sementara itu, beberapa hal yang masih perlu dipersiapkan guna pengembangan desa wisata di tiga desa ini, di antaranya tenaga pariwisata berkualitas yang berasal dari desa tersebut. Guna mendapatkan kualitas tenaga pariwisata yang baik, maka telah dikirim beberapa warga yang berasal dari tiga desa rintisan tersebut guna mengikuti pelatihan-pelatihan di tingkat propinsi.

Selain itu, penyiapan beberapa sarana pendukung, seperti kondisi jalan, tempat tinggal, termasuk di dalamnya listrik dan air bersih, pos pelayanan kesehatan. Terpenting di kawasan tersebut, para wisatawan bisa mendapatkan suasana nyaman dan aman selama berwisata.

PostHeaderIcon Perkembangan Usaha Wisata Bahari di Bali Semakin Pesat

Kemajuan sektor pariwisata Bali mendorong makin pesatnya perkembangan usaha wisata bahari/wisata tirta di Bali. Pesatnya perkembangan wisatawan membuat kegiatan wisata bahari di Bali sudah dikategorikan terpadat di Asia Tenggara.

Pada tahun 1992 anggota Gahawisri Bali yang mengembangkan usaha wisata bahari hanya sekitar 20 orang/perusahaan. Memasuki tahun 2010, anggota Gahawisri Bali yang mengembangkan usaha wisata bahari mencapai 187 orang/perusahaan. Pertambahan jumlah pelaku pariwisata yang mengembangkan usaha wisata bahari menyebabkan usaha wisata bahari di Bali terbanyak dan terpadat, tidak hanya di Indonesia tetapi sudah terpadat di Asia Tenggara.

Melihat padatnya usaha wisata bahari di Bali, kegaitan wisata tirta perlu mendapatkan penanganan yang lebih baik. Ini meliputi pembenahan dalam kualitas SDM, produk wisata bahari, pelayanan dan peralatan yang digunakan dalam kegiatan wisata bahari. Selain itu, padatnya kegiatan wisata bahari di Bali perlu diimbangi dengan penataan objek wisata yang menjadi tempat kegiatan wisata bahari. Pemerintah perlu menyediakan infrastruktur untuk memudahkan pelaku wisata bahari dalam upaya penataan objek wisata yang menjadi lokasi kegiatan wisata bahari.

Selain itu juga, dengan padatnya kegiatan wisata bahari di Bali menunjukkan tiap jengkal sungai, danau dan laut di Bali memiliki nilai yang sangat mahal. Untuk itu, pelaku yang bergerak dalam bidang usaha wisata bahari memiliki kewajiban untuk ikut menata objek-objek wisata yang menjadi tempat kegiatan wisata bahari. Sementara itu, padatnya kegiatan wisata bahari berpotensi terjadi kerusakan flora dan fauna seperti ikan termasuk terumbu karang, terutama di laut. Untuk menekan kerusahaan alam tersebut, pengusaha wisata bahari perlu menjaga kebersihan lingkungan tempat pelaksanaan kegiatan wisata bahari.

Sementara itu juga,, melihat banyak usaha wisata bahari di Bali pengusaha wisata bahari diminta menghindari adanya praktik perang tarif. Adanya perang tarif ini akan berdampak pada penurunan kualitas layanan kepada wisata pengguna jasa wisata bahari. Penurunan layanan jasa wisata bahari ini akan berdampak pada turunnya citra pariwisata Bali. Pengusaha wisata bahari harus mampu memberikan jaminan keselamatan bagi wisata yang melakukan kegiatan wisata bahari baik snorkling, diving termasuk usaha wisata bahari lainnya. Ini di antaranya dengan menggunakan SDM pemaandu wisata bahari yang telah bersertifikasi. Pengusaha wisata bahari diminta menyampaikan kegiatan wisata bahari kepada pemerintah.

PostHeaderIcon Perlu Keseriusan Garap Wisata Agro di Bangli

Potensi pariwisata agro yang tersebar di sejumlah lokasi yang ada di Kabupaten Bangli perlu digarap dengan serius. Wisata agro memiliki potensi besar untuk dikembangkan dan sekaligus jika dikelola dengan baik akan memberikan kontribusi besar bagi pembangunan di Bangli. Bangli memiliki banyak potensi wisata agro, oleh sebab itu ini perlu dikemas dan dikembangkan dengan baik.

Wisata agro di Bangli ini harus digarap secara lebih maksimal. Sementara itu, adupun permasalahan yang dihadapi Bangli saat ini adalah proses pembangunan yang belum terintegrasi antar satu kawasan dengan kawasan lain. Khusus untuk pariwisata, Bangli bukan hanya Kintamani saja, namun juga daerah lain yang memiliki potensi yang sama. Untuk itu melalui pembangunan terintegrasi, diharapkan ke depan Bangli akan mampu bersaing dengan kabupaten lainnya di Bali.

Sementara itu, wisata agro yang ada di Bangli selain Kintamani, potensi wisata agro yang ada di Bangli tersebar di sejumlah kawasan dengan ciri khas dan keunikan yang dimilikinya. Ini potensi luar biasa yang harus menjadi perhatian pemerintah dan Bupati Bangli.

PostHeaderIcon Tanah Lot Art Festival Kembali Digelar

Sebagai destinasi favorit di Bali, DTW (daerah tujuan wisata) Tanah Lot tak pernah kering dengan aktivitas seni dan budaya. Selain memiliki beberapa pura yang mampu menciptakan atraksi budaya alami, juga adanya keinginan memberi inovasi dan pihak pengelola yang kreatif.

Buktinya, tahun 2010 ini DTW yang mendapat penghargaan Emerald (sebuah penghargaan tertinggi) THK (Tri Hita Karana) Awards & Accreditation ini kembali menggelar Tanah Lot Art Festival. Acara tersebut akan digelar pada 27 Juli – 02 Agustus mendatang yang dipusatkan di Obyek Wisata Tanah Lot, Kediri, Tabanan.

Seni dan budaya yang ada di Kabupaten Tabanan memiliki keragaman dan kekhasan tersendiri dibandingkan dengan kesenian di daerah lainnya. Hal itu merupakan potensi yang dapat dijadikan sebagai daya tarik wisata, di samping sebagai upaya pelestarian juga pengembangan. Aktivitas ini juga menjadi sebuah promosi destinasi yang diharapkan mampu untuk mengajegkan seni budaya Bali yang Adi Luhung.

Selain itu, Tanah Lot Art Festival 2010 akan mengacu pada 5 materi pokok yaitu Pagelaran, Lomba, Parade, Pameran dan Dokumentasi. Selama pelaksanaan, puluhan seniman dan ribuan masyarakat Tabanan akan terlibat. Lewat pelaksanaan Tanah Lot Art Festival diharapkan akan lahir budayawan muda yang berprestasi. Juga memberikan penyegaran bagi kehidupan manusia. Sesuai Perda No.3 tentang Pariwisata Budaya yang menekankan Budaya Bali yang dijiwai oleh agama Hindu, itu berarti wajib melestarikan dan mengembangkan budaya Bali.

Sementara itu, dalam pagelaran akan menampilkan kesenian Wayang Cenk Blonk, Kesenian klasik dan kreasi baru khas Tabanan, Joged
Bumbung Mebarung, kontemporer, Geguntangan dan Pesantian, Arja Klasik, Drama Gong, Gender Wayang dan Pragmentari Bleganjur. Parade menampilkan : Parade Gong Kebyar Wanita diikuti 10 kecamatan di Kabupaten Tabanan, Parade Gong Kebyar Dewasa dan Anak-anak juga ,Parade Gong kebyar dewasa, Parade angklung kebyar.

Sementara itu, untuk kegiatan lomba akan menampilkan lomba layang-layang, lomba merangkai bunga, janur, makanan dan busana (PKK), lomba Klepon dan Kuliner khas Kabupaten Tabanan. Sementara kegiatan pameran akan menampilkan produk-produk unggulan perindustrian pangan, kerajinan dan desain, pameran foto dan film dokumentasi obyek pariwisata, pameran buku-buku tentang obyek pariwisata dan pameran lukisan.

PostHeaderIcon AS Pasar Potensial Wisata Konvensi

Bali sebagai salah satu destinasi favorit wisatawan Amerika Serikat (AS), menurut Kepala Dinas Pariwisata Daerah (Kadisparda) Bali, sangat potensial mengembangkan wisata meetings, incentives, conventions and exhibitions (MICE) atau konvensi. Berdasarkan analisis pasar, tiap tahunnya perusahaan-perusahaan di AS membelanjakan milyaran dolar AS untuk wisata konvensi bagi distributor, agen dan karyawannya.

Untuk dapat menangkap pasar wisata konvensi dari wisatawan AS, perlu dilakukan pendekatan kepada Singapura (Singapore Airlines dan Singapore Tourism Board) dalam rangka merencanakan paket twin market antara Singapura dan Bali untuk paket MICE bagi AS.

Selama ini destinasi internasional yang menjadi tempat favorit untuk tempat kunjungan wisata konvensi bagi wisatawan AS, adalah Caribbean, Meksiko, kawasan Asia Pasifik seperti Singapura, Hongkong, Seoul dan Bangkok. Turis AS sangat peduli dengan kelestarian lingkungan hidup sehingga berbagai produk pariwisata dengan konsep eco friendly menjadi pilihan utama mereka. Promosi-promosi yang berlabel ramah lingkungan tentunya akan sangat efektif di pasar AS.

Tingginya minat perusahaan multinasional, BUMN dan ekspatriat untuk melakukan meeting dan incentive tour ke kawasan wisata di Bali, juga diakui kalangan pengusaha hotel. Adanya kegiatan MICE yang digelar di Bali sangat mendongkrak tingkat hunian hotel di Bali.

Order-order MICE sangat ditentukan oleh pendekatan personal khususnya dengan agen MICE tertentu. Tak ketinggalan melakukan sales call ke pemerintah serta fleksibilitas dalam mengakomodasi permintaan organizer.

Selain itu, dari segi revenue grup MICE sangat tinggi, spending money wisatawan MICE 10 kali lebih besar daripada wisatawan biasa, karena wisatawan MICE dipastikan akan memakai kamar, menikmati kuliner dan ruang meeting.
Banyaknya wisatawan mancanegara yang memilih Bali sebagai wisata MICE juga tidak terlepas dari keramahtamahan masyarakat dan lingkungan yang aman serta nyaman.

PostHeaderIcon Merebut Rezeki Laut

Untung ada Tulamben Jukung Race 2009 dan Yacht Rally Sail Indonesia — Lovina 2009. Kendati event di Bali timur (Tulamben) dan Bali utara (Lovina) sepi publikasi, tapi mesti tetap diapresiasi sebagai revitalisasi promosi wisata bahari Bali, yang selama ini nyaris tak terdengar. Sejak pencanangan tahun 2009 sebagai Tahun Wisata Bahari, belum ada aktivitas atau event wisata bahari lainnya di Bali yang cukup penting untuk dicatat.

Adanya konsensus bahwa seni-budaya adalah ikon pariwisata Bali, ternyata berdampak seperti meninabobokan kalangan pelaku bisnis wisata dan instansi terkait. Sebab pengalaman selama ini menunjukkan, tanpa strategi promosi pun paket wisata budaya Bali sudah punya selling point. Jadi, tidak ada urgensinya lagi misalnya untuk pengembangan wisata alternatif (wisata bahari). Aksi promosi pun terkesan hanya basa-basi. Misi budaya, promosi wisata atau apapun dipakai kemasannya, “melali massal” para aparat ke luar negeri, tetap saja hanya mengesankan buang-buang uang dan pajak rakyat.

Padahal jika ketergantungan pihak Pemda mengandalkan perolehan PAD dari Pajak Hotel dan Restoran (PHR), aparat terkait tentu dituntut super aktif kreatif dan lebih inovatif mengambangkan potensi wisata Bali sebagai sumber pajak daerah. Dalam konteks ini kita tak akan pernah berhenti untuk selalu mengingatkan, bahwa para pelaku bisnis wisata dan instansi terkait untuk lebih sungguh-sungguh mengantisipasi dan menyikapi wacana ancaman kejenuhan terhadap atraksi dari objek wisata Bali. Indikasi kejenuhan itu antara lain banyaknya keluhan wisatawan akan makin sesaknya lingkungan atau objek wisata dengan aneka properti yang dulu dikenal sebagai kawasan wisata nyaman dan hijau royo-royo.

Salah satu solusi yang kita tawarkan adalah menoleh ke laut. Dengan kreativitas potensi laut bisa dikemas menjadi aneka paket wisata bahari yang menarik hati wisatawan dalam maupun luar negeri. Rezeki laut harus kita rebut! Sebab, saat ini belum semua potensi wisata laut di kawasan Bali timur (Tulamben, Amed, Tanah Ampo) dan Bali utara(Lovina, Pemuteran, Pulau Menjangan) tergali.

Dari pengelolaan kawasan wisata bahari yang telah relatif sukses, seperti di Sumatra (Batam, Belitung), Jakarta (Muara Baru, Ancol, Pulau Seribu), atau Sulawesi (Bunaken, Wakatobi) dan Bali (Pemuteran, Lembongan, Jimbaran, Tanjung Benoa) kawasan wisata bahari bisa dikemas jadi one stop reckreation and shoping. Artinya, selain menyediakan segala fasilitas untuk segala aktivitas bahari, berenang, menyelam, kano, atau mendayung, dan penginapan bernuansa laut, juga tersedia pasar ikan bagi nelayan, dan kuliner atau Pujasera (pusat jajan serba ada) khusus aneka menu hasil laut, baik untuk masakan lokal maupun menu kontinental. Dengan catatan, pengembangan potensi laut atau bahari harus tetap melibatkan masyarakat setempat dan satu paket dengan upaya pelestarian alam dan penyelamatan biota laut, maka tak perlu pakai ribut-ribut rezeki dari laut akan dapat direbut.

PostHeaderIcon Restorasi Terumbu Karang Ikon Fiesta Nusa Dua Bali

Selain restorasi terumbu karang ada beberapa aktivitas baru yang merupakan kreasi dan inovasi dari BTDC untuk melibatkan stakeholder dan masyarakat pada Nusa Dua Fiesta tahun 2009. Selain bermanfaat untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya fungsi terumbu karang, program Coral Restoration (restorasi karang) sebagai upaya untuk memperbaiki terumbu karang, dimana terumbuh karang sebagai organisme yang mampu menghasilkan O2 mengurangi pemanasan global (global warming). “Langkah perbaikan yang dilakukan adalah pada awal program ini BTDC akan menempatkan 16 Karang buatan (Submarine Reef) yang akan dilaksanakan pada tanggal 6 Oktober 2009. Transplantasi Karang (Reef Transpiatation) yang akan dilaksanakan pada tanggal 20 Oktober 2009, yang menjadi salah satu kegiatan Nusa Dua Fiesta 2009,” kata Panama Hutasoit Kordinator Coral Restoration Nusa Dua Fiesta 2009.

Ketua Umum Nusa Dua Fiesta Drs.Solichin mengakui ada beberapa aktivitas baru pada Nusa Dua Fiesta kerjasama BTDC dengan stake holder dan masyarakat. “Salah satunya adalah restorasi coral. Saya pikir ini suatu terobosan untuk melestarikan terumbu karang yang sudah terdegradasi,”kata Solichin sembari menjelaskan aktivitas lain yang dibilang baru yakni Garuda Indonesia Bali International Marathon dilaksanakan pada tanggal 18 Oktober 2009 yang akan diikuti 10.000 dan Lomba Merias 300 Pengantin Tradisional Bali (modifikasi) yang akan memecahkan rekor Muri.

Selain itu lanjutnya, ada juga pelepasan tukik (Turtle Release) Green Camp Nusa Dua Fiesta 2009, merupakan kelompok anak-anak peduli lingkungan (Environment Kids Club) adalah anak-anak tingkat Sekolah Dasar sekelurahan Benoa, yang dimentori oleh hotel-hotel di Nusa Dua. “Acara dipandu oleh Dik Doang dan kegiatannya adalah mengajak anak-anak untuk peduli lingkungan, dengan melestarikan laut dan pesisir dari segala isinya dalam bentuk permainan maupun lomba lukis,”ungkapnya. Juga Parade Jukung traditional dan Nusa Dua Golf tournament memperebutkan piala Menteri BUMN yang akan dilaksariakan pada tanggal 17 Oktober 2009. “Garuda Indonesia Bali International Marathon dilaksanakan pada tanggal 18 Oktober 2009 yang akan diikuti 10.000 orang pelari, baik dari dalam maupun mancanegara mewamai Nusa Dua Fiesta tahun ini, sebutnya menjelaskan Nusa Dua Fiesta 2009 berlangsung selama 5 hari diikuti oleh 20 Propinsi, 27 Kabupaten/Kota, 2 Departemen dan 5 BUMN di Indonesia, serta kurang lebih 100 stand/booth dengan harga per stand/booth sebesar Rp. 13 juta rupiah.

Menurut Panama berdasarkan penelitian untuk mengkaji struktur ekologi komunitas karang dan ikan karang di kawasan pesisir BTDC Nusa Dua, Bali (Juli 2009), diketahul bahwa sebaran terumbu karang di kawasan pesisir BTDC Nusa Dua, (manta tow survey), menunjukan hamparan habitat terumbu karang dengan tipe gugusan terumbu tepi yang berbentuk flat (datar) dan slope (miring) serta karakteristik perairan laut andai dengan hamparan pasir putih dan banyak dimanfaatkan untuk aktifitas pariwisata. Kondisi terumbu karang dengan penekanan pada persentase tutupan karang batu atau hard coral menunjukkan kondisi terumbu karang Nusa Dua termasuk ke dalarn kategori sedang sampai dengan baik. Sedangkan analisa terhadap keanekaragaman ikan menunjukkan bahwa family Acanthuridae, Chaetodontidae, dan Pomacentridae merupakan kelompok yang paling sering ditemukan di kawasan ini dengan jumlah individu yang relatif banyak.

Seperti kondisi terumbu karang lainnya di Indonesia yang mengalami kerusakan, baik akibat tekanan alami maupun antropogenik yang disebabkan dampak lokal manusia, terumbu karang Nusa Dua juga mengalami tekanan serupa. Beberapa hamparan patahan karang (rubble) ditemukan di beberapa tempat. “Penyebabnya kemungkinan terinjak jangkar atau bom ikan di masa lalu. Praktek perikanan merusak, seperti penangkapan ikan hias dan konsumsi menggunakan potasium sianida juga ditengarai pernah terjadi di masa laIu di kawasan ini. Namun, kini seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat lokal Nusa Dua dan juga nilai tambah yang diperoleh lewat pariwisata bahari yang telah dirasakan, praktek perikanan merusak sudah berhenti. Begitupun dengan dibangunnya penambat apung (mooring buoy) untuk mencegah penjangkaran ke karang,”bebernya.

Meskipun praktek merusak telah dihentikan, namun kerusakan ekologi yang telah terjadi, ayak mendapat perhatian semua pihak. Bali Tourism Development Corporation (BTDC) selalu pengelola kawasan resor Nusa Dua melakukan inisiatif melakukan pemulihan ekosistem yang telah terdegradasi, lewat program restorasi karang. Selain bermanfaat untuk menumbuhkan kesadaran akar pentingnya fungsi terumbu karang, program Coral Restoration (restorasi karang), sebagai wujud upaya memperbaiki terumbu karang yang selama ini telah rusak ataupun presentase penutupannya sangat sedikit.

PostHeaderIcon Wisata Petualang, Dibanjiri Wisman dan Domestik

Berwisata sambil menikmati alam, menjadi pilihan untuk menghilangkan rasa penat dan kesibukan sehari-hari. Memasuki pengujung tahun 2009, sejumlah objek wisata petualang di Bali, dibanjiri wisatawan mancanegara maupun domestik. Begitu pun untuk mengisi musim liburan Natal dan Tahun Banu tahun ini, potensi alam di perbukitan lengkap dengan fasilitas lewat berpetualang cukup diminati sebagian wisatawan yang datang ke Bali.

Salah satu pengelola jasa wisata petualang yang ada di Tabanan, menjadi incaran sebagian wisman maupun wisdom. Salah seorang Pemasaran dan Operasionalnya, akhir pekan lalu membenarkan tren wisata petualang makin favorit di kalangan wisatawan saat ini.

“Dengan potensi alam yang indah, menelusuri perbukitan, sungai, kawasan persawahan dan nuansa pedesaan ditambah rute yang cukup menantang, menjadi daya tarik tersendiri tiap penjelajal,” ungkapnya. Apalagi pada musim liburan Natal dan Tahun Baru, banyak agen yang langsung menawarkan paket petualang di kawasan yang terletak di bawah kaki Gunung Batukaru itu.

“Pada musim liburan Natal dan Tahun Baru kunjungan ke sini meningkat dibanding hari biasa,” ujarnya. Ia mengatakan, dilokasi ini wisatawan bisa menikmati wisata petualang yang cukup seru dengan menggunakan kendaraan khusus untuk menjajal objek tersebut.

Ia mengatakan, pihak pengelola wisata tersebut menyiapkan perjalanan yang bisa ditentukan oleh pelancong dengan jarak tempuh hingga sembilan kilometer.

“Namun bagi pelancong pemula disediakan juga lokasi yang hanya memutar dengan jarak tempuh lebih kurang 200 meter,” ujarnya.

Ia juga mengatakan, tarif harga untuk paket wisata petualang bagi wisatawan mancanegera sebesar 70 dolar AS atau sekitar Rp 700 ribu sedangkan wisatawan domestik sebesar Rp 400 ribu per orang. Ia menjelaskan, wisata petualang ini berdiri sejak tahun 1998 dengan menyediakan kendaraan petu alang sebanyak 15 unit.

“Kendaraan adventure tersebut khusus didatangkan dari Australia. Karena permainan seperti ini sangat disenangi oleh penduduk asal negeri kangguru itu,” ucapnya. Dikatakan, pengunjung wisata tersebut kebanyakan turis asal Australia, Rusia, Singapura dan Jepang.

“Wisatawan yang datang ke sini pada hari biasa berkisar 10 orang hingga 15 orang per hari. Tetapi kalau hari libur jauh lebih meningkat,” katanya. Salah seorang wisatawan Australia mengaku sangat senang menikmati wisata petualang seperti ini.

“Saya senang bermain kendaraan ini, apalagi didukung dengan objek persawahan yang dilator belakangi gunung. Walau medan berat tetapi saya sangat menikmati wisata itu,” katanya. Ia mengatakan, masyarakat Australia sangat senang dengan petualangan, maka dari itu bagi mereka naik motor seperti ini tidaklah asing lagi. Pokoknya saya sangat seru bermain ini”. kata wisman Australia ini sembari bergegas menuju arena petualangan tersebut.