Search

Archive for the ‘Obyek Wisata Bali’ Category

PostHeaderIcon Bangun Image Perkampungan, Andalkan View Alam Lepas

Para pedagang kuliner di kampung turis Ubud harus pintar mencari celah agar usaha mereka bisa eksis. Untuk membangun sebuah image, mereka harus punya kuliner andalan dan panorama alam yang memadai. Seperti, Warung Sawah Indah yang berlokasi di Jalan Raya Goa Gajah, Teges Kangin, Peliatan, Ubud.

Bicara Kuliner di kampung turis Ubud selalu menarik untuk diikuti. Di kecamatan yang menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) terbesar di kabupetan Gianyar itu banyak dikenal makanan yang menjadi favorit turis, warga domestik, hingga pejabat tinggi. Sebut saja Bebek Bengil, Warung Guling Ibu Oka, Tepi Sawah dan lainnya. Kini, satu lagi warung yang ingin mengikuti sukses warung itu adalah Warung Sawah Indah yang mengandalkan gurami goreng dengan harga miring dan terjangkau bagi semua kalangan. Lokasinya kurang lebih 400 meter masuk ke utara di Jalan Raya Goa Gajah, Banjar Teges Kangin, Peliatan.

Warung yang juga menyediakan kolam pancing itu berdiri diatas lahan seluas 27 are. Lokasi warung yang dibuka 20 September lalu itu juga menghubungkan langsung ke sawah petani yang cukup luas. Nuansa tradisional menjadi andalan Warung Sawah Indah. “Kita ingin pengunjung makan sambil bersantai dengan suasana pedesaan yang kental,” kata Eka Sugiyantha, owner Sawah Indah.

Eka menyebutkan. selain gurami goreng dengan bumbu khas Bali juga dijual bebek goreng dengan harga terjangkau.”Sasaran kita bukan hanya wisatawan asing, tapi warga lokal. Jangan sampai warga lokal takut untuk datang,” ujar suami dari Yuli Setyawati itu. Sebulan buka, kata Eka, pengunjung yang datang cukup lumayan. Mereka berasal dari Jakarta, Surabaya, wisatawan asing hingga warga lokal.” View seperti ini membuat orang jadi betah,” ujarnya sambil menunjukan hamparan sawah. Pemandangan akan indah saat tanaman padi sedang tumbuh subur. Hamparan hijau akan terlihat jelas,” katanya meyakinkan.

Untuk memperkenalkan Sawah Indah yang dikelolanya. bapak satu anak itu mengaku melakukan banyak kiat. Selain aktif menyebarkan brosur ke berbagai tempat, pihaknya juga menyediakan kolam pancing bagi pengernar memancing. Nanti ikan yang didapatkan di kolam bisa dimasak di sini. Nanti ditimbang plus beli bumbu,” Sebutnya. Eka menegaskan, dirinya sama sekali tidak memiliki bakat kuliner. Cuma, istrinya Yuli Setyawati memang hoby memasak. Lantas kenapa memilih nama Sawah Indah ? Eka menjawab diplomatis, ini sesuai dengan lokasinya yang dekat sawah,” cetusnya.

Lantas berapa harga untuk ikan gurami ? Eka menyebutkan, untuk ikan gurami, pihaknya bisa menjual Rp 35 ribu, bebek goreng Rp 22 ribu dan lele Rp 10 ribu. “Satu keluarga tidak sampai menghabiskan uang banyak. Semuanya terjangkau,” tandasnya. Ditanya kritik yang datang dari pengunjung, Eja jujur mengakui masalah jalan yang belum di aspal. Memang jalannya sedikit bergelombang karena menuju areal sawah.”Kami berharap akses jalan ini segera mendapat perhatian pemerintah,” pungkasnya.

PostHeaderIcon Duet Dibalik Tanjung Benoa Sebagai Kawasan Wisata

Pesatnya perkembangan Tanjung Benoa sebagai kawasan wisata tak lepas dari peran dua figur yakni I Wayan Ranten dan Dr. (Hons) Jro Gede Karang. Kedua figur ini oleh warga setempat diakui sebagai sosok yang berupaya dan berjuang menjadikan Tanjung Benoa sebagai kawasan wisata, karena sebelumnya Tanjung Benoa adalah jalur hijau yang ditumbuhi semak belukar dan di beberapa titik terlihat tandus dan gersang. “Jangankan beli dikasih minta pun orang gak mau karena semak belukar dan tidak produktif,” kisah I Wayan Ranten saat ditemui beberapa pekan lalu seraya memastikan di Novotel Benoa waktu itu juga masuk kawasan jalur hijau.

Setelah pemerintah merestui dan membukanya menjadi kawasan pariwisata, perlahan-lahan Tanjung Benoa mulai berbenah dengan melihat potensi masyarakatnya yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan. Maka alternative yang paling memungkinkan adalah mengembangkan menjadi kawasan wisata bahari. “Setelah dibuka jadi kawasan pariwisata tahun 1985 kami mulai bergerak dan bekerja keras untuk mengembangkan potensi kami. Berkat kerja keras lima tahun kemudian (1990) Tanjung Benoa eksis menjadi kawasan wisata khususnya bahari. Dan sejak saat itu daerah kami terkenal di seluruh Indonesia bahkan sampai ke mancanegara sebagai kawasan wisata bahari. Ini kerja keras kami bersama pak Jro Gede Karang meyakinkan pemerintah pusat dan provinsi agar kawasan Tanjung dibuka sebagai kawasan pariwisata,” cerita Pak Ranten sapaan akrabnya.

Dalam suatu kesempatan diskusi dengan wartawan di Bali Dr.(Hons) Jro Gede Karang (JGK) menceritakan berbagai upaya yang dilakukan untuk meyakinkan pemerintah pusat dan daerah agar membuka Tanjung Benoa sebagai kawasan pariwisata. “Memang dulunya daerah tersebut jalur hijau sesuai dengan Perda Bukit waktu itu. Karena kebutuhan wisatawan akan kamar begitu tinggi maka saya mengirim surat permohonan kepada Gubernur Bali untuk meninjau kembali perda bukit. Surat tersebut saya lampirkan dengan bukti-bukti bookingan yang tak bisa dipenuhi dari complain dan agent luar negeri yang tak bisa mendapat kamar di Bali,”ceritanya sembari menjelaskan saat itu Gubernur Bali (I.B. Mantra) mengatakan perubahan perda adalah hal yang sangat sulit tapi gubernur akan berusaha memanggil aparatnya dan bersama Ketua DPR Bali membentuk panitia untuk meninjau kembali Perda Bukit.

Gayung pun bersambut, upaya JGK tak sia-sia. Berselang beberapa minggu kemudian JGK di panggil Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk ikut memberikan masukan mengenai Master Plan Tanjung Benoa. “Saya kaget bercampur bangga karena usulan saya mendapat respons positif dari bapak gubernur. Sejak saat itu lokasi saya yang luasnya 3 hektar dan Tanjung Benoa secara umum dibebaskan dari Perda Bukit sehingga berubah menjadi kawasan pariwisata,”ungkap JGK berbangga.

Setelah menjadi kawasan pariwisata sempat muncul kekuatiran dari masyarakat setempat karena pariiwisata dianggap merusak dan tak membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Namun, JGK dan I Wayan Ranten membantah pendapat tersebut dan meyakinkan masyarakat pariwisata akan membawa perubahan ekonomi bagi masyarakat setempat. “Sejak jadi kawasan pariwisata kami yakin ada perkembangan dan perubahan Secara ekonomi karena Tanjung Benoa dekat dengan kawasan eksklusif BTDC, dekat juga dengan Kuta dan Sanur. Dengan pemahaman tersebut kekuatiran masyarakat pun hilang. Dan terbukti, kini, perubahan hidup masyarakat Tanjung Benoa luar biasa dan yang sebelumnya hanya seorang nelayan dan pencari batu kapur,” ujar JGK yang dibenarkan oleh coleganya Pak Ranten.

Akomodasi pioneer di Tanjung Benoa; Bali Resort (kini Novotel) tahun 1988, Bali Tropic Resort & Spa (1989 soft opening) menyusul Club Mirage, Melia Benoa, Ramada Benoa, Aston Bali dan
Peninsula.

PostHeaderIcon Dulu Semak Belukar, Kini Semarak Sea Sport Activity

Sepuluh tahun terakhir wajah Tanjung Benoa berubah total dari yang sebelumnya dikelilingi semak belukar dan batu karang yang tandus. Perubahan tersebut akhirnya menempatkan Tanjung Benoa menjadi kawasan wisata yang sama dan sejajar dengan kawasan wisata lain seperti Sanur, Kuta, Nusa Dua dan Ubud. Bahkan kini Tanjung Benoa terkenal dengan brand yang sudah mendunia yakni sea sport activities pertama dan terbesar di Bali bahkan Indonesia.

parasailing-1Dulu mata pencaharian masyarakat setempat hanyalah nelayan, pemecah batu kapur dan mencari rumput laut untuk menunjang kepulan asap dapur dan membiayai pendidikan sekolah anak-anak. Kini semuanya telah beralih ke industri pariwisata khususnya sarana dan penunjang aktivitas water sports. Waktu itu mau beralih ke pariwisata namun muncul keraguan karena ada anggapan pariwisata itu jelek. Tapi setelah dijalani, semuanya sukses dan punya usaha sendiri. Kini, perubahan hidup masyarakat Tanjung Benoa luar biasa,” kata I Ketut Sukada Executive House Keeper Bali Tropic Resort & Spa sembari meminta terkait keadaan dan perkembangan Tanjung Benoa sebagai kawasan wisata sebaiknya mewawancarai Pak Jro Karang dan Wayan Ranten biar informasinya lebih sempurna. “Mereka adalah pelopor Tanjung Benoa sebagai kawasan wisata,” sebutnya.

Ditemui di tempat bisnisnya di Tanjung Benoa I Wayan Ranten membenarkan bahwa wajah Tanjung Benoa kini telah berubah setelah pemerintah daerah menjadikannya sebagai kawasan pariwisata sejak tahun 1985. “Dulu Tanjung Benoa hanyalah semak belukar dan tanahnya tandus. Sejak dibuka menjadi kawasan pariwisata terjadilah kemajuan yang pesat khususnya di bidang wisata bahari. Karena sebagian penduduknya punya pekerjaan sebagai nelayan maka sangat mudah dikembangkan menjadi wisata bahari. Tahun 1990 kawasan Tanjung Benoa sudah mulai eksis di bidang wisata bahari. Ini semua berkat kerja keras, jujur dan terbuka warga kami disini,”cerita Pak Ranten sapaan akrabnya

The owner Lingga Sempurna Water Sport ini menyebutkan, kini Tanjung Benoa telah semarak dengan sea sports activity yang hampir semua dikelola dan melibatkan masyarakat setempat. Sea sports activities lanjutnya, didukung oleh beberapa aktivitas dilaut yang memanjakan tubuh sekaligus menguji nyali seperti parasailing, jet sky, banana boat, scuba diving, flying fish, snorkeling, fishing dan trolying. “Semua ini dilakukan oleh wisatawan dengan aman dan nyaman karena dipandu oleh instruktur yang profesional dan sudah puluhan tahun menggeluti aktivitas ini,” kata pria yang punya moto berselimut angin berbantal ombak kapan dan dimana pun.

Pak Ranten memastikan tiap hari kurang lebih 500-600 wisatawan (domestik dan mancanegara) membaur di pantai Tanjung Benoa untuk melakukan sea sports activities. “Bila musim liburan sekolah dan high season jumlah kunjungan wisatawan ke Tanjung Benoa menembus angka 2 ribu,” sebutnya memastikan. Dalam waktu dekat pihaknya akan menghidupkan kembali Community Tanjung Benoa (CTB) yang pernah ada beberapa tahun lalu. “Kalau sebelumnya CTB hanya bergerak di bidang kebersihan dan pemberdayaan sumber daya manusia, maka community yang akan datang akan melingkup seluruh aspek yang bersentuhan langsung dengan Tanjung Benoa Sebagai kawasan wisata bahari pertama dan terbesar di Bali dan Indonesia,” tegasnya.

Kawasan wisata Tanjung Benoa berada di Kelurahan Tanjung Benoa sekitar 8 kilometer dari utara kawasan wisata BTDC Nusa Dua. Kelurahan Tanjung Benoa memiliki 6 banjar yakni banjar Tengkulung, banjarTengah, banjar Pascima, banjar Kangin, banjar Anyar dan banjar
Panca bhineka.

PostHeaderIcon Menguak Potensi Wisata Bahari Bali

Tulamben Jukung Race 2009 dan Yacht Rally Sail Indonesia — Lovina 2009, harus diapresiasi sebagai revitalisasi promosi wisata bahari Bali. Sejak pencanangan tahun 2009 sebagai “Tahun Wisata Bahari” awal tahun lalu, aktivitas wisata bahari Bali nyaris tak terdengar. Realitas ini paradoks dengan momentum tahun wisata bahari yang dengan gemilang di-blowup oleh Sail Bunaken Indonesia 2009 (Sulut) dan Takabonerate Island Expedition 2009 (Sulsel). Kata kunci strategi promosi akbar wisata bahari yang digelar di kawasan Indonesia timur adalah partisipasi aktif seluruh potensi Pemda di kedua provinsi yang sangat progresif itu.

Membandingkan dengan kondisi wisata bahari Bali, sungguh bertolak belakang, bagai siang dan malam. Aparat terkait bagai tak peduli dengan momentum yang dikibarkan Kementerian Pariwisata dan Budaya sejak awal tahun lalu. Untung di pengujung tahun wisata bahari 2009 ini muncul “gebrakan kecil” dari kawasan wisata Bali timur (Tulamben) dan Bali utara (Lovina). Memang kurang adil jika membandingkan dua event spektakuler di kawasan Indonesia timur (Sulut, Sulsel) yang didukung penuh Pemda setempat. Mengingat, panitia acara di Lovina dan Tulamben nyaris berjalan sendiri, dan aparat terkait cenderung pasif baik dalam kontribusi visi maupun gizi (dana).

“Ya sudah bertahun-tahun dalam urusan aktivitas untuk pengembangan dan promosi kami terpaksa mandiri dan jalan sendiri.” ungkap seorang staf panitia Tulamben Jukung Race 2009. “Kawasan ini memang belum jadi skala prioritas program pembangunan Pemda. Semampunya kita tetap jalan sendiri…”

Dari catatan data, sampai Tulamben Jukung Race masuk tahun ketiga nyaris seluruh dana penyelengaraan dibebankan kepada manajemen Emerald Tulamben Hotel & Spa. “Ya, dengan anggaran pas-pasan sesuai kondisi pemasukan hotel yang belum maksimal, kita berharap acara ini masih tetap bisa berlangsung rutin tiap tahun,” tekad Thomas T. lnoue, pemilik hotel berbintang di Tulamben itu.

Potensi & Rezeki

Tapi, di luar dugaan walau sepi promosi dan terkesan jalan sendiri kegiatan wisata bahari dan wisata tirta di Bali kini kian memperlihatkan giginya sebagai salah satu attraksi favorit wisatawan. Hal ini terbukti dengan banyaknya akomodasi kepariwisataan yang mencari daerah pesisir sebagai background-nya. “Fenomena ini tentu dapat menjadi contoh kecil bahwa perairan di Bali menjadi sebuah aset yang sangat berharga dan menarik bagi wisatawan” demikian diungkapkan Yos Amerta Ketua Gahawisri Bali.

Peluang mengembangkan busnis wisata bahari di Bali sungguh terbuka luas. Pulau Bali memiliki pantai sepanjang 430 km, dan sekitar 177,8 km berpotensi untuk dikembangkan sebagai wisata bahari. Sekarang ini, Bali memiliki sekitar 172-an pengusaha atraksi wisata tirta dan sebanyak 85 % berupa diving dan rekreasi air. Bahkan Bali sebenarnya memiliki kawasan wisata bahari terbaik saat ini di Indonesia. Sanur, Tanjung Benoa, Nusa Penida, Nusa Lembongan, Padang Bay, Candidasa, Amed, Tulamben, Lovina, Pamuteran, Menjangan dan Secret Bay adalah beberapa daerah yang banyak dimanfaatkan untuk kegiatan wisata ini.

Namun, rezeki dan potensi wisata bahari Bali akan bisa dipetik lebih maksimal jika sudah disukung peraturan daerah yang mengatur mengenai tata ruang laut terutama dalam hal carring capacity. “Hingga saat ini belum adanya Perda yang mengatur hal ini sehingga terkesan tak ada perhatian dari pemerintah” tambahnya. Jika hal ini terus berlanjut hal yang paling ditakutkan akan terjadi adalah over load di sebuah kawasan. Di samping membahayakan keselamatan tentunya fenomena ini juga menimbulkan persaingan yang tidak sehat diantara para pengusaha.

Seharusnya untuk menghindari persaingan ini pemerintah dapat melakukan sebuah studi tata ruang. Disamping itu perizinan pun harus dapat lebih selektif diberikan oleh dinas terkait yang dalam hal ini dinas pariwisata, perhubungan dan dinas tenaga kerja. “Kami sudah berulang kali membahas mengenai hal ini namun realisasinya selalu buntu karena terbentur masalah dana,” kata Yos.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa sebenarnya kegiatan wisata bahari di Bali telah memiliki pasar sendiri untuk dikembangkan. Namun sayangnya ada lima hal klasik yang menyebabkan jenis attraksi ini terlihat belum maksimal penggarapannya. “Promosi, marketing strategi, kecepatan merespon pasar dan SDM, adaah kelemahan kita dalam dunia pariwisata,”tegasnya.

PostHeaderIcon “Ngembak Geni” Wisdom Padati Pesisir Buleleng

Sudah menjadi kebiasaan setelah melaksanakan brata penyepian hari Ngembak Geni, Rabu kemarin dimanfaatkan oleh warga di Buleleng untuk berwisata.

Pesisir pantai menjadi salah satu objek wisata yang padat pengunjung. Bahkan kunjungan wisatawan domestik (wisdom) kemarin bukan saja warga kota, namun warga dari pelosok desa di Bali Utara ramai-ramai piknik di tepi pantai.

Kunjungan terlihat di kawasan wisata Lovina, lalu lalang kendaraan pengunjung terjadi sejak pagi. Selain kendaraan roda dua banyak juga wisdom yang datang dengan rombongan. Pengunjung tidak saja menikmati suasana pantai berombak tenang, tetapi pengunjung banyak yang berenang.
Pemandangan sama terlihat di objek wisata Pantai Penimbangan, Singaraja. Kawasan yang terkenal untuk kalangan anak-anak muda saja, pada hari Ngembak Geni kawasan ini menjadi padat pengunjung dari anak-anak hingga orang dewasa.

Menurut petugas parkir di kawasan setempat, tiap libur hari raya pengunjung jauh lebih ramai dibandingkan hari biasanya. Bahkan pada libur hari raya ruas parkir yang tersedia tidak menampung kendaraan yang masuk ke kawasan Penimbangan.

Hal ini membuat parkir kendaraan pengunjung menjadi tidak teratur, sehingga seringkali menimbulkan kemacetan. Apalagi di pinggir jalan berjejer lapak pedagang jagung bakar, sehingga mempersimpit jalur kendaraan yang masuk.

Selain itu, suasana hari raya nyepi hingga kemarin masih terasa. Bahkan pedagang di pasar-pasar tradisional memilih tutup. Hanya pedagang yang beragama lain yang membuka usaha di hari Ngembak Geni. Seperti yang terlihat di Pasar Seririt kios maupun lapak pedagang terlihat tutup. Demikian pula beberapa toko di wilayah kecamatan yang dikenal dengan segitiga emas ini menutup usaha.

PostHeaderIcon Wisata Bahari Tetap Menjanjikan

Bentangan pesisir sepanjang 87 kilometer di Karangasem dengan sejumlah titik yang kerap dikunjungi di antaranya pantai Tulamben, Candidasa, Amed, Padangbai maupun kawasan pantai lainnya sangat potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata bahari.

Meski wisata bahari cukup menjanjikan, namun sampai sekarang peran pemerintah dalam mengembangkan wisata bahari belum maksimal. Selama ini beberapa titik yang ramai dikunjungi seperti kawasan Amed yang dikenal memiliki keindahan biota laut luar biasa, lebih banyak peran swasta dalam pengelolaannya.

Prospek wisata bahari di Karangasem sangat cerah, mengingat banyak lokasi wisata bahari yang dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara. Salah satu wisata bahari yang ada di wilayah Amed yaitu diving, wisata bahari ini sudah dikelola dengan baik. Wisatawan asing banyak yang berdatangan, di antaranya dari Amerika Serikat, Kanada , Australia maupun Jepang.

Wisatawan ini datang khusus melakukan penyelaman untuk melihat biota bawah laut. Patut disyukuri dalam perjalanan pengembangan wisata menyelam, tidak menemui kendala yang berarti. Wisatawan mancanegara yang datang juga memberikan apresiasi positif terhadap wisata bahari. Dikatakan, wisatawan justru banyak yang mengeluhkan Visa on Arrival (VoA) yang dikeluarkan negaranya dalam kunjungannya ke Indonesia.

Dengan demikian, banyak wisatawan yang semula akan berkunjung ke Bali, mengalihkan rencana perjalanannya ke Thailand. Disebutkan, negara yang masih memberlakukan VoA di antaranya Australia, Prancis, AS dan negara-negara Eropa.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Karangasem mengakui, pengelolaan wisata bahari lebih banyak dilakukan langsung pihak swasta dan pelaku pariwisata. “Kami bukan lembaga bisnis, kewajiban pemerintah hanya sebatas menyiapkan infrastruktur,” katanya.

Salah satu upaya untuk menunjang perkembangan wisata bahari, pemerintah sudah membangun infrastruktur untuk penambatan jukung diving sehingga tidak merusak terumbu karang.

PostHeaderIcon Usaha Wisata Bahari mulai Menggeliat

Terik matahari yang menyengat, ternyata menjadi berkah bagi para pengusaha bahari. Pasalnya, permintaan wisata bernuansa olah raga dan tantangan (extreme sport ), seperti surfing (selancar), jetski, paralayang, diving dan snorkeling ini turut terdongkrak.

Menurut seorang pengusaha wisata bahari di Tanjung Benoa, cuaca panas akhir-akhir ini menarik minat wisatawan, baik domestik maupun mancanegara yang mengunjungi dan menikmati wisata minat khusus di Bali. “Untuk saat ini, wisata jetski paling banyak diminati wisatawan mancanegara. Bahkan, dalam sehari mereka yang mencoba aktivitas ini lebih dari 50 orang. Di samping jumlah kunjungan tinggi, uang dibelanjakan juga besar,” ungkapnya Senin (22/2) kemarin.

Teriknya panas matahari, diakuinya, memberikan banyak keuntungan bagi usaha wisata bahari mencapai 20-50 persen. “Dengan meningkatkan wisatawan yang bermain di pantai kemungkinan kerugian saat musim hujan dapat teratasi. Sebab wisman jenis ini mempunyai tingkat pengeluaran uang yang tinggi, bisa dua tiga kali lipat dibanding wisatawan pada umumnya,” katanya.

Sementara itu, seorang pengusaha wisata bahari lainnya juga mengatakan, wisata minat khusus surfing (selancar), jetski, paralayang, diving dan snorkeling sangat terpengaruh dengan cuaca panas saat ini.

Ia optimis potensi wisata minat khusus akan menjadi tempat pilihan berwisata untuk menghabiskan musim libur mereka selama di Bali. “Wisata minat khusus ini sangat terpengaruh dengan cuaca. Kendati bagi wisatawan minat khusus, harga tidak jadi masalah, namun jika cuaca buruk mereka akan berpikir dua kali untuk beraktivitas di laut,” katanya.

Menurutnya, sebagian besar turis mancanegara seperti Australia, Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara Eropa menyukai wisata bernuansa olah raga dan tantangan ( extreme sport ).

PostHeaderIcon Perayaan Imlek, Wisata Bahari Menggeliat

Akibat adanya krisis global memang berakibat adanya penurunan kunjungan wisatawan ke Bali memasuki Februari 2010 ini. Sekretaris DPD Gahawisri Bali, Rabu (10/2) kemarin mengatakan, kedatangan wisatawan Cina dan Taiwan serangkaian perayaan Imlek ini menggeliatkan kegiatan wisata bahari di Bali.

Dikatakan, penggunaan jasa wisata bahari oleh pasar domestik maupun pasar wisatawan mancanegara (wisman) memasuki akhir Januari 2010 mengalami penurunan mencapai 20 persen. Jasa wisata bahari masih banyak dimanfaatkan oleh wisatawan dari pasar Asia seperti Jepang.

Ia menjelaskan, dengan adanya rangkaian perayaan Imlek Februari 2010 ini, cukup memberikan berkah bagi pengusaha wisata bahari di Bali. Kedatangan wisatawan asal Cina dan Taiwan ke Bali dalam rangkaian perayaan Imlek bisa memberikan kontribusi peningkatan kunjungan wisatawan ke Bali. Di bagian lain, bersamaan dengan perayaan Imlek ini, wisatawan asal Cina dan Taiwan yang berlibur ke Bali bisa lebih banyak memanfaatkan jasa wisata bahari di Bali.

Ia memaparkan, perayaan Imlek berlangsung 14 Februari 2010. Penggunaan jasa wisata bahari oleh wisatawan Cina dan Taiwan ini mulai tanggal 7-14 Februari 2010. Peningkatan orderan jasa wisata bahari oleh wisatawan Cina dan Taiwan ini diharapkan bisa mendongkrak pendapatan dari pelaku pariwisata di Bali yang bergerak dalam jasa wisata bahari.

Ia berharap melalui perayaan Imlek ini, orderan jasa wisata bahari pada bulan Februari ini bisa mengalami peningkatan mencapai 20 persen dibandingkan hari-hari biasa. Ini sekaligus bisa mendorong pengusaha wisata bahari untuk tetap bergairah menawarkan kegiatan wisata bahari bagi wisatawan yang berlibur ke Bali.

Ia menambahkan, kegiatan wisata bahari yang digemari oleh wisatawan Cina dan Taiwan ini meliputi water sport. Wisatawan Cina dan Taiwan ini juga menyukai kegiataan wisata bahari seperti snorkling, rafting dan diving.

PostHeaderIcon Wisata ”Rafting” tetap Diminati Wisman

Selain wisata agro, spiritual dan spa yang sudah berkembang di Bali, wisata bahari yang memanfaatkan potensi pantai dan sungai juga menjadi bagian dari daya tarik wisata ke Bali.

Wisata rafting misalnya, aktivitas yang memanfaatkan derasnya air sungai ini menjadi salah satu produk wisata bahari yang tetap menyedot ribuan turis asing ke Bali.

Seorang pelaku usaha rafting di Bali mengatakan, wisata rafting banyak menarik minat para petualang air untuk menikmati alam yang asri dan alami. Terbukti, sedikitnya puluhan pengusaha bahari yang memanfaatkan Sungai Ayung sebagai produk wisata bahari. Sedikitnya ratusan para petualang yang gemar tantangan derasnya air sungai dan suasana alam ke sini.

Tiap hari paling sedikit ada sekitar 5 boat atau tiga puluh orang yang mencoba derasnya arus Sungai Ayung. Mereka kebanyakan ingin tahu suasana alam yang ada di tepi Sungai Ayung. Mereka kebanyakan berasal dari negara Prancis dan ada beberapa yang berasal dari Jepang dan Eropa,” ungkapnya, Minggu (24/1) kemarin.

Banyak pengusaha wisata bahari yang ada, dikatakannya, membawa hal yang positif karena produk wisata ini dapat menampung tenaga kerja lokal baik sebagai kameramen dan guide.

“Makin banyaknya jumlah pengusaha bahari dengan luas lahan yang tidak pernah bertambah atau berkembang, kami berharap tidak akan memicu persaingan yang merugikan para konsumen yang berakibat pada ruginya para pengusaha atau para tenaga kerja yang bekerja di tempat tersebut,” katanya.

Seorang pengusaha wisata bahari lainnya juga mengakui, minat wisatawan, baik domestik maupun mancanegara yang mengunjungi dan menikmati wisata minat khusus di Bali terus meningkat.

“Untuk wisata rafting, Bali memiliki objek yang telah dikenal di dunia internasional dan dikunjungi wisatawan mancanegara dalam jumlah besar, seperti Australia, Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara Eropa. Di samping jumlah kunjungan tinggi, uang dibelanjakan wisatawan kelompok ini juga besar,” ujarnya.

Menurutnya, jenis wisata seperti ini mesti lebih dipromosikan untuk mengantisipasi penurunan wisatawan mancanegara (wisman). “Dengan meningkatkan minat khusus kemungkinan krisis wisman dapat teratasi. Sebab wisman jenis ini mempunyai tingkat pengeluaran uang yang tinggi, bisa dua tiga kali lipat dibanding wisman pada umumnya,” katanya.

Kepala Dinas Pariwisata Daerah (Disparda) Bali, belum lama ini juga mengatakan, kegiatan wisata minat khusus seperti rafting , lomba lari, surfing dan aktivitas bahari lainnya mampu menggenjot tingkat kunjungan wisman ke Bali.

“Selain panorama alam dan tradisi di Bali, sejumlah aktivitas wisata air yang melibatkan warga asing cukup potensial menggenjot jumlah kedatangan mereka di Bali,” katanya.

PostHeaderIcon Cuaca Buruk, Pengusaha Wisata Bahari Waswas

Sejumlah pengusaha wisata bahari tampaknya mulai mengkhawatirkan hujan yang kerap turun akhir-akhir ini. Pasalnya, cuaca yang tidak mendukung akan berdampak pada pembatalan rencana wisatawan berwisata di laut.

“Akan terjadi pembatalan jika hujan turun dengan intensitas tinggi. Terlebih hujan yang disertai angin kencang, dipastikan usaha wisata bahari akan merugi. Sebab, bisnis ini tergantung pada cuaca,” ujar salah satu pengelola puluhan boat di Sanur, Jumat (8/1) kemarin.

Kendati demikian, hujan yang turun beberapa hari terakhir, diakuinya, belum mempengaruhi minat wisatawan melakukan aktivitas bahari seperti diving maupun memancing. Mereka terlihat tetap melakukan aktivitas di laut meski sebagian wisatawan ada yang merasa khawatir melakukan aktivitas wisata di laut.

“Cuaca buruk di akhir tahun hingga awal tahun memang sudah menjadi hal hiasa yang rutin terjadi. Namun, kami tetap merasa waswas. Syukurlah cuaca kali ini tidak terlalu buruk karena air laut tidak terlalu keruh dan arus tidak terlalu kencang,” ungkapnya.

Salah seorang pelaku wisata bahari lainnya di Sanur juga mengatakan, curah hujan yang turun akan berdampak pada kegiatan wisata bahari. Mereka umumnya menghentikan aktivitas di laut sampai kondisi alam berangsur membaik serta melakukan antisipasi kemungkinan terjadinya angin kencang maupun angin tornado pada kawasan aktivitas wisata bahari.

“Kerugian akibat cuaca buruk sudah menjadi hal biasa yang rutin terjadi. Sebab, jika cuaca buruk, bisnis wisata bahari juga pasti terpuruk,” katanya.

Hujan yang turun akhir-akhir ini, dikatakannya, tidak terlalu berpengaruh terhadap kegiatan wisata bahari. Ini berdasarkan pertimbangan suhu udara di darat tidak jauh berbeda dengan suhu di dalam air. Ini tentunya kegiatan diving dan snorkeling tetap dilakukan pada musim hujan.

“Kendala yang bisa mengganggu kegiatan wisata bahari terutama hujan yang disertai gelombang besar. Sementara itu, dari puluhan paket wisata yang ditawarkan, mancing jenis trolling fishing merupakan paket wisata termahal dibandingkan paket wisata bahari lainya seperti coral fishing, parasailing, jet sky dan win surfing.